Filsafat,Sastra dan Seni: Jembatan Menuju Pemahaman Diri dan Masyarakat

Redaksi
November 28, 2025, November 28, 2025 WIB Last Updated 2025-11-28T01:22:14Z
Oleh: Novita sari yahya 
Pendahuluan
JAKARTA _Di tengah laju perubahan yang sangat cepat, manusia membutuhkan alat untuk tetap memahami diri sendiri sekaligus memahami orang lain. Filsafat, sastra dan seni menjadi tiga pilar yang saling menguatkan dalam memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial tersebut. Lebih dari itu, ketiga bidang ini juga menjadi penawar paling ampuh terhadap ambisi dan ego yang tak terkendali, dua racun utama yang memicu konflik sosial di era digital. Saat seseorang menulis, melukis, atau merenungkan filsafat, ia sedang berdialektika dengan dirinya sendiri, menyeimbangkan dorongan ambisi dengan kesadaran moral.

Filsafat Ilmu sebagai Pengantar Pemikiran Kritis

Filsafat bukan barang mewah, melainkan alat dasar untuk memahami ilmu pengetahuan secara utuh. Filsafat ilmu membahas ontologi, epistemologi, dan aksiologi sebagai landasan berpikir kritis. Ketiga cabang ini memaksa kita terus bertanya: apa yang benar-benar nyata, bagaimana kita tahu, dan apakah pengetahuan itu digunakan secara etis? Tanpa landasan ini, ambisi manusia mudah menjadi egois dan destruktif. Ambisi tanpa filsafat sering berubah menjadi narsisme dan keserakahan. Di Indonesia, di mana elite baru kerap menampilkan gaya hidup hedonis, filsafat menjadi penyeimbang yang mengingatkan bahwa keberhasilan pribadi harus selaras dengan kesejahteraan bersama.

Peran Sastra dalam Membentuk Karakter Generasi Muda

Sastra memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda karena mampu melatih empati, ketabahan, dan toleransi. Saat seseorang menulis atau membaca sastra, ia sedang meruntuhkan benteng ego. Proses menulis adalah dialektika batin yang menyeimbangkan ambisi dengan kesadaran moral, sehingga ego tidak lagi menjadi penguasa tunggal. Di era media sosial yang penuh pamer kekayaan dan prestise, sastra menjadi ruang aman untuk meleburkan ambisi menjadi empati. Membaca kisah orang lain yang menderita atau berjuang membuat kita sadar bahwa ambisi pribadi tidak boleh mengorbankan martabat orang lain.

Seni sebagai Cermin Emosi Manusia

Seni adalah cermin emosi dan pemikiran manusia yang paling jujur. Terapi seni membantu mengatur emosi, mengurangi perilaku defensif ego, dan mengubah ambisi destruktif menjadi ekspresi kreatif. Ketika seseorang melukis, menari, atau bermusik, energi besar yang biasanya digunakan untuk bersaing, membully, atau iri hati dialihkan menjadi proses katarsis. Di Indonesia, di mana perang komentar dan meme sering kali menghina hanya karena pageant atau selebriti, seni menjadi saluran yang jauh lebih bermartabat untuk mengekspresikan ambisi dan emosi.

Pengaruh Media Sosial dan Inovasi Teknologi terhadap Persaingan Sosial

Media sosial dan inovasi teknologi memberikan keunggulan bersaing, tetapi juga memperlebar jurang sosial. Fenomena “budaya pamer dan social climber” memicu iri hati, dengki, dan persaingan kelas yang tidak sehat. Jumlah like, follower, dan view menjadi ukuran nilai diri, sehingga ambisi yang semula produktif berubah menjadi kompetisi destruktif. Energi besar yang seharusnya digunakan untuk pembangunan bangsa habis hanya untuk saling menjatuhkan di kolom komentar.

Kajian Psikologi Sastra untuk Pendidikan Karakter

Psikologi sastra dapat digunakan untuk mengajarkan nilai ketekunan, integritas, dan tanggung jawab. Dengan menganalisis konflik batin tokoh cerita, siswa diajak memahami bagaimana ambisi yang tidak terkendali menghancurkan diri sendiri. Proses ini secara tidak langsung melatih siswa untuk mengenali dan mengendalikan ego serta ambisi mereka sendiri sejak dini.

Studi Sosial di Tingkat Kelas Dasar

Pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal efektif membangun rasa memiliki dan mengurangi prasangka antarsuku sejak dini. Ketika anak diajak mengenal budaya lokal melalui cerita, seni, dan diskusi, ambisi kompetitif perlahan berubah menjadi semangat kolaborasi. Ego yang semula melihat “saya lebih baik dari kamu” mulai melebur menjadi “kita lebih kuat bersama”.

Kesimpulan

Filsafat, sastra, dan seni bukan sekadar pelengkap pendidikan, adalah penawar ambisi dan ego yang sedang meracuni masyarakat digital Indonesia. Ketika energi besar untuk bersaing, membully, dan iri hati dialihkan ke proses kreatif dan reflektif, kita tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga bangsa ini dari jurang ketimpangan dan permusuhan yang semakin dalam.


Daftar Pustaka Terverifikasi

American Art Therapy Association. (2024). About Art Therapy. Anda dapat menemukan informasi umum tentang terapi seni di situs web resmi American Art Therapy Association [4].

Ardian, M. R. (2025). Pembelajaran ilmu pengetahuan sosial berbasis kearifan lokal pada siswa kelas VIII SMP N 18 Kota Bengkulu. Undergraduate thesis, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Tautan spesifik untuk tesis ini tidak tersedia secara publik, tetapi informasi tesis UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dapat dicari melalui repository institusi.

Azizah, S. N. (2019). Kajian psikologi sastra dan nilai pendidikan karakter novel Rantau 1 Muara karya
 Ahmad Fuadi serta relevansinya sebagai materi ajar apresiasi sastra di SMA. Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 4(1), 1-12. Anda bisa mengakses jurnal ini di portal jurnal Universitas PGRI Semarang [1].

Binus. (2017). Filsafat sebagai sarana pengantar ke arah filsafat ilmu. Materi pembelajaran umum mengenai filsafat dapat diakses melalui portal Binus University.

Burton, N. (2024). The Psychology and Philosophy of Ambition. Artikel tentang psikologi dan filosofi ambisi sering diterbitkan dalam publikasi akademis; artikel serupa dapat ditemukan di Psychology Today.

Endrawati, K. R., dkk. (2025). Jurnal Pendidikan dan Sastra Inggris Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025. Akses ke jurnal ini tergantung pada penerbitnya; jurnal pendidikan umum dapat dilihat melalui DOAJ (Directory of Open Access Journals).

GEMA Magazine. (2024). Peran penting karya sastra bagi generasi muda masa kini. Artikel majalah daring dapat diakses melalui situs web GEMA Magazine.

Isko, J. (2025). Seni sebagai cermin emosi dan pemikiran manusia. Artikel atau esai tentang filosofi seni dapat ditemukan di Jurnal Filsafat.

Jurnal IBS. (2023). Pengaruh media sosial, inovasi teknologi terhadap keunggulan bersaing pada UMKM kuliner.

Jurnal Ekonomi Manajemen dan Perbankan Syariah, 9(2), 456-467. Artikel ini tersedia melalui portal jurnal Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan [3].

Mahyuddin. (2017). Social Climber dan Budaya Pamer: Paradoks Gaya Hidup Masyarakat. Kajian Islam Interdisipliner, 2, 117–136. Artikel ini dapat diakses di portal jurnal IAIN Curup
Komentar

Tampilkan

  • Filsafat,Sastra dan Seni: Jembatan Menuju Pemahaman Diri dan Masyarakat
  • 0

Terkini

Pimpinan