Ketika Para Hipokrit Dipencundangi oleh Penipu Bermodalkan Pencitraan

Redaksi
November 19, 2025, November 19, 2025 WIB Last Updated 2025-11-19T02:35:51Z


“Drama, Citra, dan Warga Konoha yang Terlampau Percaya Panggung”

Oleh : Novita sari yahya 

Di Negeri yang Gemar Menata Wajah

Tulisan ini lahir setelah saya membaca keributan di Negara Konoha. Keributan yang anehnya tidak pernah benar-benar hilang. Selalu ada saja tokoh baru, konflik baru, tetapi pola drama yang sama. Secara pribadi, saya tidak terkejut. Bagaimana bisa terkejut, jika wajah-wajah hipokrisi sudah ribuan kali saya temui, bahkan kadang menyapa dengan ramah sambil berkata manis, “Tenang, semuanya baik-baik saja,” padahal jelas-jelas tidak demikian.

Di Konoha, ketika seseorang berbicara “A”, maka yang dilaksanakan biasanya “Z”, atau sedikit lebih kreatif: “A versi remix” yang tak lagi mirip aslinya. Warga Konoha hidup dalam dunia di mana makna kata-kata relatif, sementara pencitraan adalah mata uang utama.

Fenomena ini, sesungguhnya, bukan barang baru. Rosihan Anwar pernah mengutip pandangan seorang rohaniawan Belanda tentang bangsa pribumi yang gemar berpolitik dan hidup dalam pusaran drama. Ketika saya membacanya dahulu, kesannya seperti catatan antropologis yang penuh prasangka. Namun, melihat kenyataan hari ini, ironinya justru terasa seperti cermin raksasa yang baru dibersihkan.

Hipokrisi, Tradisi, dan Kebiasaan yang Mendarah Daging

Konoha selalu menyukai panggung. Bahkan dalam percakapan sehari-hari di warung kopi, orang-orang sudah terbiasa memainkan peran tertentu. Ada peran si ramah-tamah yang terlalu manis sampai bikin penyakit diabetes sosial. Ada peran si pejabat kecil yang suka menunduk mencium tangan atasan, seolah rendah hati padahal sedang menghitung peluang kenaikan jabatan. Ada pula peran si tokoh terpelajar yang membahas moralitas sambil menyenggol sedikit gosip politik, agar tetap dianggap relevan.

Jika Syahrir dan Hatta masih hidup di Konoha, mungkin mereka akan geleng-geleng kepala bukan hanya karena masyarakatnya gemar berpura-pura, tetapi karena kepura-puraan itu kini dianggap skill penting, bukan lagi cacat moral.

Konoha hidup dalam budaya di mana kesan lebih penting daripada substansi. Maka tak heran apabila seorang tokoh pewayangan dengan kemampuan bicara yang rapi dan senyum yang terlatih dapat menipu begitu banyak cerdik pandai bergelar panjang. Mereka bukan ditipu karena bodoh, tetapi karena terlalu terpukau oleh pencitraan yang dikemas indah.

Sebagaimana sebuah panggung teater, sebagian pemain begitu lihai memainkan naskahnya, sementara sebagian penonton menikmati drama sambil memendam tanya: “Bukankah ini hanya sandiwara?” Namun, seperti biasa, pertanyaan itu tenggelam dalam kebisingan tepuk tangan.

Ketika Penipu Melampaui Para Hipokrit

Ada satu hal menarik: para hipokrit di Konoha sering merasa dirinya lebih pintar, lebih bermoral, atau lebih tahu tentang seluk-beluk panggung politik dan sosial. Mereka percaya tidak mungkin tertipu, apalagi oleh figur yang bermodalkan pencitraan murahan. Tetapi hidup selalu memiliki selera humor yang aneh.

Ketika para hipokrit itu akhirnya dipermalukan oleh seorang penipu dengan modal pencitraan, pertunjukannya justru menjadi semakin menarik. Mereka kebingungan, marah, terkejut, seakan-akan tidak pernah menyadari bahwa tontonan yang mereka nikmati selama ini sebenarnya ditulis oleh sutradara yang mereka abaikan.

Penipu itu tidak menggunakan kekuatan sihir, tidak pula memakai jutsu tingkat tinggi. Ia hanya memahami satu hal: Di Konoha, penampilan adalah kebenaran. Maka ia tampil menawan, bersikap sopan, berbicara manis, dan memberi harapan palsu yang dikemas estetis. Dan seperti biasa, warga Konoha terpesona.

Para hipokrit pun jatuh tersungkur karena tidak siap bersaing dengan seseorang yang memainkan permainan mereka dengan lebih baik. Dalam dunia penuh pencitraan, pemenangnya adalah mereka yang paling konsisten memerankannya.

Basa-Basi, Drama, dan Pencitraan

Masyarakat Konoha terbiasa dengan basa-basi yang tidak perlu. “Mari main ke rumah ya,” padahal maksudnya “Jangan datang tiba-tiba.”
“Atur saja nanti,” padahal maksudnya “Saya tidak tertarik.”
“Saya dukung Anda,” padahal maksudnya “Saya lihat dulu ke mana angin bertiup.”

Inilah bahasa diplomasi sehari-hari yang digunakan di antara tetangga, teman kantor, hingga pejabat tertinggi. Basa-basi menjadi gaya hidup yang dijalankan tanpa pertanyaan.

Pencitraan pun berubah menjadi semacam lomba nasional. Foto-foto penuh senyum diunggah ke media sosial, caption penuh makna ditulis rapi, dan setiap gerak-gerik harus tampak elegan. Pokoknya semua harus terlihat baik. Yang penting kesan pertama dulu, urusan substansi belakangan.

Dalam budaya seperti ini, tidak heran jika penipu yang lihai dalam pencitraan dapat melampaui para hipokrit senior. Ia menguasai permainan citra seperti seorang maestro memainkan alat musik. Dan masyarakat Konoha, seperti biasa, menjadi penontonnya yang setia.

Sejarah Drama yang Berulang

Konoha memiliki sejarah panjang yang selalu bersentuhan dengan propaganda dan manipulasi. Sejak zaman kolonial hingga era kontemporer, panggung Konoha dipenuhi naskah yang ditulis oleh berbagai tangan baik tangan sendiri maupun tangan asing.

Dalam catatan sejarah, pernah ada masa ketika propaganda kolonial menggambarkan pribumi sebagai bangsa yang gemar berpolitik, mudah terpukau oleh drama, dan terobsesi dengan panggung kekuasaan. Rosihan Anwar mengutip pendapat rohaniawan Belanda . Dulu, banyak yang menganggapnya prasangka. Namun kini, seakan-akan catatan itu berubah menjadi prediksi yang tepat sasaran.

Sejarah Konoha selalu bertemu dengan permainan informasi, rekayasa opini, dan skenario yang dibuat oleh pihak-pihak berkepentingan. Bahkan aktor-aktor yang bermain tidak selalu sadar bahwa mereka sedang memainkan naskah yang bukan milik mereka.

Namun yang lebih mengenaskan adalah ketika wayang-wayang Konoha justru dikendalikan oleh tangan-tangan asing yang pandai memetakan kelemahan psikologis bangsa ini: sensitivitas, emosionalitas, dan ketertarikan pada drama.

Pelajaran yang (Konon) Ingin Dipetik

Saya sebenarnya tidak terlalu suka membahas politik. Tidak pula punya kesabaran untuk mengikuti setiap drama di Konoha yang muncul seperti serial drama sinetron episode tak berujung. Namun, melihat berbagai peristiwa yang muncul dan tenggelam, saya hanya bisa mengatakan bahwa bangsa ini masih terus belajar. Belajar menghadapi wajah kemunafikan, belajar mengelola pencitraan, dan belajar membedakan antara kebenaran dan drama.

Bangsa besar harusnya bisa mulai mengurangi kebiasaan “bacot” di media sosial, misalnya kiriman opini yang tidak berdasar, hujatan yang emosional, klaim yang dibungkus heroisme palsu, dan pernyataan-pernyataan penuh superioritas moral. Karena pada akhirnya, apa pun isu yang dilemparkan ke publik biasanya bukanlah peristiwa spontan, melainkan bagian dari skenario.

Era digital telah membuka peluang manipulasi yang lebih halus. Ada algoritma buatan negeri asing yang memetakan percakapan, memicu emosi, bahkan memengaruhi interaksi warga Konoha tanpa mereka sadari. Setiap trending topic mungkin bukan sekadar tren, tetapi skenario yang dimainkan dengan cerdik.

Ini bukan teori konspirasi. Ini hanya refleksi tentang betapa mudahnya warga Konoha terpengaruh oleh narasi yang dirancang rapi.

Menjadi Bangsa yang Lebih Cerdas

Jika ada pelajaran penting bagi warga Konoha, mungkin pelajaran itu adalah: jangan terlalu percaya pada panggung, bahkan pada panggung yang Anda ciptakan sendiri. Pencitraan tidak selalu buruk, tetapi menjadi masalah ketika citra menggantikan realitas. Ketika kesan lebih penting daripada integritas. Ketika penampilan lebih utama daripada akal sehat.

Untuk menjadi bangsa yang kuat, Konoha perlu menata ulang hubungannya dengan kebenaran. Mulai dari hal-hal kecil: kejujuran dalam percakapan sehari-hari, keberanian bersikap apa adanya, hingga keterbukaan menerima kenyataan meski pahit.

Bangsa ini perlu sadar bahwa tidak semua yang tampak menawan itu benar. Dan tidak semua yang berbicara lantang itu jujur. Kadang-kadang, penipu yang penuh pencitraan adalah cermin bagi para hipokrit sendiri. Cermin yang memantulkan wajah yang selama ini mereka sembunyikan.

Penutup: Konoha dan Komedi Besar Kehidupan

Pada akhirnya, Konoha adalah panggung besar, tempat berbagai karakter hidup dan menjalankan perannya masing-masing. Ada yang tulus, ada yang culas. Ada yang polos, ada yang lihai. Ada yang terjebak drama, ada yang menjadikannya sebagai pekerjaan sehari-hari.

Namun, satu hal pasti: Konoha selalu punya sesuatu untuk ditertawakan. Sebuah komedi sosial yang kadang menyakitkan, kadang menghibur, tetapi selalu mengajarkan sesuatu.

Jika Anda belum tahu, maka cerdaslah menjadi warga Konoha.

Daftar Referensi

Daftar Referensi (Revisi)

1. Novita Sari Yahya. Bullying, Feodalisme, dan Ekstremisme: Cermin Luka Psikologis Bangsa. POTRET Online, 15 November 2025. 

2. Anwar, Rosihan. Inlander Dinilai. Kompas, 4 Desember 2010. (Tulisan ini juga dikutip dalam analisis sosial tentang mental “inlander” di Indonesia modern.) 

3. Anwar, Rosihan. Tabiat yang Kita Warisi. Pikiran Rakyat, 9 Maret 2005. 

4. Sjahrir, Sutan. Perjuangan Kita (Pamflet “Our Struggle” / “Onze Strijd”), 1945.
Komentar

Tampilkan

  • Ketika Para Hipokrit Dipencundangi oleh Penipu Bermodalkan Pencitraan
  • 0

Terkini

Pimpinan