Seni, Sastra, dan Satire di Jalan Margonda

Redaksi
November 23, 2025, November 23, 2025 WIB Last Updated 2025-11-23T15:37:02Z
Oleh: Novita sari yahya 

Seni, sastra, satire, dan filsafat sering dianggap empat saudara jauh yang jarang hadir dalam satu meja makan. Padahal, ketika keempatnya duduk berdampingan, mereka menghasilkan harmoni seperti lagu klasik yang dimainkan pada senja yang tidak berlalu terburu-buru. Ada yang menyebutnya irama; ada yang menyebutnya renungan; ada pula yang menyebutnya hiburan berkelas. Bagi saya, itu semua hanyalah cara halus untuk menerima kenyataan bahwa hidup memang lebih mudah dihadapi dengan tawa kecil yang tidak terlalu nyaring namun cukup mengetok pintu hati.

Satire yang baik tidak seharusnya menjatuhkan. Hanya mengingatkan pelan, melengkung, dan sedikit nakal. Seperti orang yang mampu menertawakan diri sendiri tanpa kehilangan harga diri. Kelucuan yang berkelas itu bukan soal membuat orang lain tampak bodoh, melainkan menemukan kebodohan kecil dalam rutinitas kita sendiri. Dan lucunya, kebodohan yang paling lucu justru sering terjadi ketika kita sedang berusaha terlihat paling serius.

Saya punya satu kenangan yang sampai saat ini masih membuat saya tersenyum kecut. Senyum yang muncul di antara napas panjang dan ingatan yang sudah mulai berdebu. Kenangan itu muncul setiap kali ada orang mengunggah video lomba-lomba tujuh belasan. Ada yang balap karung, ada yang makan kerupuk, ada yang panjat pinang, dan entah apa lagi. Yang paling menggelitik bagi saya adalah lomba jalan kaki, entah karena kedisiplinannya atau karena pesertanya sering lupa bahwa perlombaan itu tidak mewajibkan peserta untuk tetap berjalan pulang.

Sekitar tujuh belas tahun lalu, angka yang membuat saya merasa tua sekaligus bangga karena masih mengingatnya. Saya ikut lomba jalan kaki di Hari Kemerdekaan. Rutenya panjang, cuacanya panas, dan semangatnya lebih banyak dibangun oleh rasa gengsi ketimbang jiwa nasionalisme. Waktu itu, rute dari arah Margonda menuju Margo City terasa seperti marathon yang diciptakan oleh seseorang yang tidak pernah punya niat baik terhadap betis manusia.

Saya berjalan dengan tekad yang lebih besar daripada napas saya. Begitu garis finish terlewati, tubuh saya seakan mengajukan mosi tidak percaya terhadap diri saya sendiri. Di titik itu, filsafat hidup saya berubah: kemerdekaan bukan soal mengusir penjajah, melainkan membebaskan diri dari rasa capek. Dan sebagai manusia yang realistis, saya memutuskan bahwa perjalanan pulang tidak perlu lagi mengikuti aturan lomba. Tidak ada panitia. Tidak ada wasit. Tidak ada kamera. Yang ada hanya saya, dompet saya, dan sebuah taksi yang kebetulan lewat memberikan lirikan manis.

Maka naiklah saya ke dalam taksi itu, tanpa dosa, tanpa malu, dan tanpa ragu. Tentu saja, tindakan seperti ini pasti menimbulkan drama kecil jika dilakukan pada waktu dan tempat yang kurang tepat. Dan benar saja, drama itu datang tidak lama setelah taksi bergerak. Di tengah jalan entah takdir atau sekadar kebetulan, taksi saya melewati pimpinan saya di Pemda, Bapak Suhadi, yang luar biasa semangatnya. Beliau masih berjalan dengan langkah tegas, keringat mengalir seperti bercucuran dan wajah penuh beban yang sering kita temukan hanya pada pegawai teladan.

Refleks saya, yang kadang terlalu jujur, membuat saya membuka jendela taksi dan melambaikan tangan. “Duluan ya, Pak!” kata saya, seolah saya sedang memenangkan penghargaan kategori peserta yang paling cepat menyerah. Dalam hati, saya berusaha terlihat sopan, tetapi hasilnya justru terdengar seperti satire yang menggelitik keanggunan momentumnya.

Bapak hanya tersenyum. Senyum yang entah mengandung makna “baik, hati-hati di jalan” atau “nanti saya panggil ke ruangan saya”. Saya tidak berani menafsirkan terlalu jauh, karena dalam dunia birokrasi, senyum kadang lebih penuh makna daripada surat edaran.

Sejak saat itu, setiap mengingat momen tersebut, saya baru paham betapa uniknya hidup berdampingan dengan ASN yang kelakuannya kadang acak. Kadang sangat rajin, kadang sangat patuh aturan, kadang sangat formal, dan sesekali, seperti saya waktu itu, sangat kreatif dalam mencari jalan pintas. Dunia perkantoran memang tempat terbaik untuk melihat pertemuan antara filosofi hidup dan komedi situasional.

Tapi begitulah hidup. Kita semua punya kisah kecil yang jika diceritakan ulang dengan bumbu satire, terasa seperti novel pendek yang disusun oleh penulis yang gemar mencampur humor dengan kebijaksanaan ringan. Di antara kesibukan administrasi, rapat yang terlalu panjang, dan tugas yang selalu datang tanpa bertanya kabar, justru cerita-cerita kecil seperti itulah yang menghangatkan ingatan.

Untuk Bapak Suhadi, S.Sos., M.H., semoga tetap sehat dan tetap tegar menghadapi anak buah seperti saya yang sering muncul dengan cerita random yang tidak pernah direncanakan. Dan tentu saja, sebagai catatan kecil bernuansa satire namun tetap penuh hormat: jangan lupa, Pak… SK pensiun saya tolong segera di-ACC. Saya tidak berjanji akan naik taksi lagi untuk merayakannya, tapi siapa tahu sejarah ingin mengulangnya dengan cara yang lebih lucu.
Komentar

Tampilkan

  • Seni, Sastra, dan Satire di Jalan Margonda
  • 0

Terkini

Pimpinan