BOGOR,-Neodetik.com || Sosok yang mengaku sebagai praktisi hukum dan pengacara kini menjadi sorotan publik bukan karena keberhasilannya membela kebenaran, melainkan karena sikapnya yang kerap memicu perdebatan panas di berbagai kelompok media sosial,11/10/26.
Alih-alih menyampaikan argumen yang berkelas dan berdasar, yang ditampilkan justru gaya bicara yang meninggikan suara namun merendahkan martabat profesi yang diembannya.
Di berbagai grup diskusi, sosok ini kerap memancing perdebatan tanpa menyadari bahwa cara berkomunikasinya justru semakin menunjukkan kelemahannya sendiri. Argumen yang seharusnya disampaikan dengan bijaksana justru berubah menjadi pertikaian yang tidak perlu, membuat banyak pihak bertanya-tanya di mana letak keilmuannya.
Semakin ia berusaha terlihat pintar dan benar, semakin terlihat bahwa yang ia miliki hanyalah keinginan untuk menang sendiri, bukan kemampuan memecahkan masalah. Sikap arogan yang ditunjukkannya di ruang publik akhirnya membuahkan hasil yang berkebalikan dari yang ia harapkan.
Publik tidak menilai seseorang dari seberapa lantang ia berbicara atau seberapa tinggi gelarnya. Publik menilai seseorang dari cara ia memperlakukan orang lain. Jika seorang yang mengaku pengacara saja tidak bisa menjaga tutur kata, maka kepercayaan masyarakat terhadap profesi tersebut pun perlahan luntur.
Yang paling ironis, perdebatan yang ia mulai sendiri akhirnya berakhir dengan ia yang terlihat semakin tidak dipercaya. Bukan lawan bicaranya yang jatuh, melainkan dirinya sendiri yang perlahan kehilangan wibawa di mata siapa pun yang menyaksikan.
Menjadi pengacara bukan berarti harus selalu menang berdebat. Menjadi penegak hukum berarti mampu menegakkan keadilan sekaligus menjaga kehormatan profesi. Jika kehormatan itu yang dikorbankan hanya untuk sekadar menang argumen di grup daring, maka ia telah kalah jauh sebelum perdebatan itu dimulai.
Sikap ini menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun. Kehebatan seseorang tidak diukur dari seberapa tajam ia bisa mematahkan pendapat orang lain, melainkan dari seberapa bijaksana ia bisa menyampaikan kebenaran tanpa harus merendahkan orang lain.
Terlalu bersemangat ingin terlihat hebat justru membuatnya terlihat kecil. Di mata publik, ia bukan pemenang debat, melainkan sosok yang tanpa sadar telah merendahkan dirinya sendiri.
Red- tim