Jakarta,neodetik.com || Saat ini konflik Iran dan Israel masih berlangsung. Amerika yang merupakan sekutu Israel kini juga ikut campur menyerang Iran. Tiga lokasi tempat pengayaan uranium di Iran, diserang pesawat pembom dan rudal-rudal Amerika.
Menyikapi konflik Iran Israel ini kaum Muslimin, khususnya di Indonesia terbelah menjadi dua. Ada yang mendukung Iran dan ada yang netral
Yang netral beralasan bahwa Iran tak pantas didukung, selain karena Syiah ia juga banyak berbuat zalim kepada umat Islam. Kezaliman Iran dilakukan di Suriah, Yaman, Libanon dan lain-lain. Iran dianggap kezalimannya sama dengan Israel. Karena itu biarkan saja mereka berperang. Penzalim lawan penzalim biarkan saja.
Sedangkan yang mendukung Iran, beralasan bahwa meski Iran Syiah, tapi ia dizalimi. Bukankah yang menyerang pertama adalah Israel. Dalam serangan Israel pertama ke Iran pada 13 Juni 2025 lalu, selain menewaskan beberapa jenderal Iran juga ‘menghancurkan’ Isfahan dan Natanz. Serangan itu dinamakan Israel sebagai ‘Operation Rising Lion’.
Kedua, Israel dikenal dunia karena kezalimannya yang luar biasa kepada Palestina, khususnya Gaza. Penduduk Gaza yang menjadi korban keganasan Israel lebih dari 60 ribu orang, sejak serangannya 2023 lalu.
Ketiga, karena Iran diserang tentu ia berhak untuk membalasnya. Balasan Iran dengan rudal-rudal hipersoniknya nampaknya tidak diduga Israel. Sehingga jumlah korban di Israel pun cukup banyak. Jumlah korban penduduk yang tewas di Iran sekitar 600 orang sedangkan Israel hanya sekitar 28 orang. Israel cenderung menutup-nutupi jumlah korban penduduk mereka yang tewas.
Yang menarik, ulama besar Syekh Yusuf Qaradhawi pernah menulis bahwa bila Iran diserang Israel (Amerika), maka umat Islam wajib mendukung Iran. Qaradhawi beralasan bahwa kedua negara itu suka berbuat zalim kepada negara lain.
Pihak yang tidak mau mendukung Iran dalam konflik dengan Israel suka mengungkit-ungkit kezaliman Iran yang dilakukannya pada Suriah beberapa tahun lalu. Saat konflik pemerintah Suriah (Assad) dengan penduduknya, Iran memang berpihak pada Assad. Inilah yang kaum Muslimin, khususnya kaum Sunni, tidak terima. Dalam konflik itu ribuan kaum Muslimin terbunuh.
Begitu juga kasus Irak. Syiah dianggap kaum Sunni berkhianat. Karena di sana kaum Syiah bersekutu dengan Amerika menindas kaum Sunni. Di Yaman, Amerika justru bersekutu dengan kaum Sunni melawan kaum Syiah. Kaum Sunni di Yaman didukung Arab Saudi.
Bila kita cermati, konflik Syiah Sunni kebanyakan adalah masalah perebutan kekuasaan. Baik itu di Irak, Suriah, Yaman dan lain-lain.
Kekuasaan memang bisa menjadi konflik antar aliran. Bahkan bisa menjadi konflik sealiran. Di Mesir, terjadi konflik kaum Sunni dan Sunni (sekuler). Di Tunisia, Aljazair dan lain-lain. Di Iran, tidak semua aliran Syiah sepakat dengan ‘Wilayatul Faqih’.
Maka dalam pengambilan sikap politik, harusnya yang dilihat adalah siapa yang berbuat zalim dan siapa yang dizalimi. Bukan melihat aliran agamanya. Bila pihak Syiah berbuat zalim, maka ia salah. Begitu pula bila kaum Sunni yang berbuat zalim, ia pun salah.
Keadilan sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Puluhan ayat al Quran memerintahkan kaum Muslimin berbuat adil. Para Nabi diutus juga untuk menegakkan keadilan.
Maka dalam melihat konflik Iran Israel, kita harus melihat siapa yang berbuat zalim dan siapa yang dizalimi. Kita melihat bahwa dalam konflik ini yang berbuat zalim adalah Israel bukan Iran. Maka dalam hal ini kita harus melihak kepada Iran bukan Israel. Mengenai masa lalu Iran pernah berbuat zalim kepada negara lain, tidak usah dibawa-bawa.
Politik terikat dengan tempat dan waktu. Kini Iran sedang berkonflik dengan Israel, bukan dengan Irak, Suriah dan lain-lain. Sebagaimana di tanah air, Masyumi mau berkawan dengan Amerika ketika menghadapi keganasan PKI di masa lalu.
Apalagi serangan Iran ke Israel itu menguntungkan Palestina. Karena itu jangan heran ketika rudal-rudal Iran meluncur ke wilayah Israel, masyarakat Timur Tengah bersorak. Bahkan masyarakat dunia pun banyak yang bersorak. Karena kejahatan Israel sudah di luar batas kemanusiaan di Palestina.
Maka jangan heran gerakan Islam Hamas menunjukkan dukungannya ke Iran. Pejabat-pejabat tinggi Hamas tidak malu-malu menunjukkan hubungan dekatnya dengan Iran. Dan Iran diketahui banyak menyuplai senjata ke Hamas dalam perang dengan Israel.
Hammas tahu kezaliman Iran terhadap kaum Sunni di Irak atau Suriah. Tapi Hamas tahu politik. Dalam menghadapi Israel ini ia perlu dukungan negara yang kuat. Dan satu-satunya negara yang mendukungnya penuh adalah Iran. Negara-negara lain, khususnya Arab, banyak yang ragu-ragu mendukung Hamas.
Jadi bisa dikatakan, yang sok netral dalam konflik Iran Israel adalah orang yang tidak tahu politik praktis. Hamas yang berjihad dan paham politik saja mendukung Iran. Padahal Hamas beraliran Sunni. Dan bila dunia Arab bersatu dengan Iran melawan Israel, hancurlah Israel. Dunia Arab cenderung netral dan membiarkan Iran dan Hamas sendirian bertempur dengan Israel.
Sampai kapan kaum Muslimin sadar mereka berpecah belah atau dipecah belah? Wallahu azizun hakim. []
Tim redaksi

