Jakarta _Miss Universe selalu digambarkan sebagai panggung glamor, ruang untuk mengapresiasi kecantikan, keberagaman, serta kisah inspiratif para perempuan dari seluruh dunia. Namun pada 2025, ajang yang biasanya disambut penuh kemeriahan ini justru berubah menjadi pusat perdebatan yang membentang jauh melampaui dunia pageant. Kemenangan Fátima Bosch, yang semestinya menjadi perayaan, berubah menjadi titik awal diskusi lebih besar: bagaimana perempuan masih rentan menjadi sasaran penghinaan, serangan digital, dan permainan kekuasaan dalam struktur sosial yang sebagian besar masih dikuasai laki-laki.
Sebagai pengamat, sulit menepis kesan bahwa Miss Universe 2025 bukan sekadar “kontes bermasalah”. Ia menjadi cermin yang menggambarkan kondisi masyarakat kita. Cermin yang mungkin retak, tetapi justru melalui keretakannya kita melihat pantulan paling jujur tentang bagaimana tubuh, suara, dan pencapaian perempuan kerap diperlakukan.
Ketika Sebuah Hinaan Memicu Rangkaian Drama
Fátima Bosch memang dinobatkan sebagai pemenang melalui prosedur resmi pada malam final di Bangkok. Namun catatan formal itu tidak mampu menutup gejolak yang sudah membara bahkan sebelum acara dimulai. Sebuah video yang memperlihatkan seorang pejabat penyelenggara, Nawat Itsaragrisil, menghina Fátima Bosch karena menolak sesi pemotretan promosi menjadi pemicu kontroversi yang lebih besar. Rekaman tersebut cepat menyebar, diliput media internasional, dan memancing kecaman luas terhadap sikap seorang figur otoritas yang tampak memperlakukan peserta tanpa penghargaan.
Peristiwa ini memperlihatkan relasi kuasa yang sangat nyata: ketika seorang perempuan menolak sesuatu yang menurutnya tidak pantas, ia dianggap tidak patuh. Ketidakpatuhan itu kemudian dibalas dengan hinaan, bukan karena kesalahannya, tetapi karena keberaniannya menunjukkan batasan pribadi. Keputusan organisasi untuk mencabut peran Nawat dari rangkaian acara final menjadi bukti bahwa memang ada yang tidak benar dalam cara kuasa digunakan.
Namun seperti kisah Pandora yang membuka tutup kotaknya, insiden ini membawa keluar persoalan lain yang sebelumnya tersembunyi.
Tuduhan, Spekulasi, dan Keruhnya Narasi Publik
Belum selesai dengan polemik penghinaan, publik kembali diguncang oleh pernyataan seorang juri yang memilih mundur. Ia mengklaim bahwa pemenang telah “ditentukan” bahkan sebelum final digelar. Sebuah tuduhan serius meski belum didukung bukti independen. Opini publik pun berkembang, memperbincangkan kemungkinan hubungan bisnis antara pihak penyelenggara dan orang-orang yang dekat denganFátima Bosch. Spekulasi itu kian menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kontes yang selama puluhan tahun dianggap prestisius.
Terlepas dari benar tidaknya tuduhan tersebut, satu hal menjadi jelas: keraguan publik terhadap transparansi kompetisi semakin besar. Di era ketika informasi menyebar dengan cepat dan masyarakat semakin kritis, rumor mampu menjadi bara yang membakar kepercayaan. Namun di sisi lain, tuduhan tanpa dasar juga dapat memberi beban berat pada perempuan yang menjadi objeknya.
Fátima Bosch tidak hanya menghadapi tekanan kompetisi, tetapi juga harus berhadapan dengan kecurigaan yang diarahkan padanya tanpa bukti.
Dalam situasi seperti ini, sebuah pola kembali terlihat: perempuan kerap ditempatkan di tengah pusaran konflik baik ketika berhadapan dengan figur laki-laki berkuasa maupun ketika menjadi sasaran spekulasi publik yang cepat memvonis.
Badai Kebencian di Ruang Digital: Ketika Kemenangan Berubah Menjadi Ujian
Reaksi publik terhadap penobatan Fátima Bosch memperlihatkan betapa brutalnya ruang digital terhadap perempuan. Setelah dinyatakan sebagai pemenang, ia menerima banjir pesan berisi hinaan, ujaran kebencian, bahkan ancaman. Fátima Bosch kemudian membagikan beberapa tangkapan layar untuk menunjukkan bahwa kekerasan digital itu benar-benar terjadi, dan laporan media internasional memperkuat bahwa situasi tersebut bukan sekadar isu kecil.
Di era media sosial, kebencian dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Perempuan terutama mereka yang tampil di ruang publik sering kali menjadi sasaran empuk. Setiap aspek diri mereka dapat dijadikan bahan serangan: wajah dikomentari, tubuh dikritik, pilihan hidup dipertanyakan. Alih-alih merayakan keberhasilannya, Fátima
Bosch justru harus menghadapi gelombang kebencian yang terus menekan.
Namun yang menarik, Fátima Bosch memilih untuk tidak diam. Dalam unggahannya, ia menegaskan bahwa serangan tersebut tidak akan melemahkan dirinya. Ia menolak tunduk pada intimidasi, menolak bersembunyi di balik ketakutan, dan menolak meminta maaf atas prestasinya. Sikap itu menciptakan titik balik penting: seorang perempuan berdiri tegak menghadapi komentar kejam dari orang-orang yang bersembunyi di balik layar.
Ajang Kecantikan: Ruang Pemberdayaan atau Benteng Patriarki?
Kontroversi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kontes kecantikan benar-benar menjadi wadah pemberdayaan perempuan? Atau apakah ia masih menyimpan jejak patriarki yang kuat dan sulit terhapus?
Melalui insiden penghinaan, tuduhan manipulasi, spekulasi publik, hingga serangan digital yang diterima Fátima Bosch, terlihat dengan jelas bahwa perempuan masih berada dalam posisi rentan. Mereka dipandang sebagai ikon yang dapat diperdebatkan, dinilai sebagai objek, dan diadili sebagai simbol. Ironisnya, ajang yang dimaksudkan untuk merayakan kecantikan perempuan justru sering memperlihatkan bagaimana mereka harus berjuang mempertahankan martabat.
Karena itu, kasus ini bukan sekadar kisah dari dunia pageant. Menjadi gambaran bagaimana masyarakat memperlakukan perempuan yang tampil di ruang publik, terutama ketika mereka bukan hanya hadir, tetapi juga menang.
Pendidikan dan Martabat Perempuan: Makna yang Lebih Dalam
Di balik drama besar yang melingkupi Miss Universe 2025, ada pesan penting terkait pendidikan perempuan. Selama ini, pendidikan sering dipandang sebatas jenjang akademik atau gelar yang dapat diraih. Namun, makna pendidikan jauh lebih luas. Ia membentuk integritas, keteguhan sikap, dan kesadaran bahwa perempuan berhak mengatur ruang hidupnya sendiri.
Keberanian Fátima Bosch dalam melawan penghinaan dan menanggapi serangan digital menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal teori dan angka. Pendidikan adalah kemampuan untuk mempertahankan diri ketika direndahkan, kemampuan membela martabat ketika dihina, dan keberanian berbicara saat suara perempuan sering tidak didengar. Sikapnya menjadi contoh bahwa perempuan tidak layak tunduk pada standar ganda yang selama ini dibebankan pada mereka.
Ruang Digital dan Tanggung Jawab Masyarakat
Kontroversi ini juga membuka percakapan penting tentang bagaimana ruang digital bekerja. Media ososial bukan tempat netral; ia dipenuhi bias, dinamika kekuasaan, dan pola kekerasan yang kerap tak terlihat. Tanpa literasi digital yang kuat dan etika bermedia yang jelas, perempuan akan terus menjadi korban dalam ruang yang seharusnya memberi mereka peluang berpendapat.
Media sosial semestinya menjadi wadah berekspresi. Namun realitas menunjukkan bahwa ia juga mudah berubah menjadi arena penghakiman. Dalam konteks ini, kasus Fátima Bosch menjadi momentum untuk membicarakan bagaimana masyarakat digital dapat melindungi perempuan dari ujaran kebencian, ancaman, dan intimidasi.
Suara Perempuan Tidak Boleh Padam
Miss Universe 2025 mungkin akan dikenang sebagai salah satu ajang paling penuh konflik dalam sejarahnya. Namun pada saat yang sama, ia juga membuka dialog yang jauh lebih penting: tentang martabat perempuan, tentang kekerasan digital, dan tentang struktur kekuasaan yang masih jauh dari seimbang.
Fátima Bosch berdiri di tengah badai, tetapi ia tidak tumbang. Ia memilih melawan, dan keputusan itu menegaskan pesan penting: perempuan berhak dihormati, berhak menyuarakan pendapat, dan berhak dilindungi. Dunia boleh sibuk memperdebatkan siapa yang paling cantik, tetapi yang lebih utama adalah memastikan perempuan tidak harus membayar mahal untuk setiap keberhasilan yang mereka raih.
Daftar Referensi
Inside the Miss Universe 2025 scandals: insults, injuries and more from this year’s chaotic pageant — AOL Entertainment. https://www.aol.com/articles/inside-miss-universe-2025-scandals-193120439.html
Miss Universe 2025 winner crowned after weeks of pageant controversy — Yahoo News / UK. https://uk.news.yahoo.com/2025-miss-universe-winner-crowned-150513522.html
Miss Mexico wins Miss Universe 2025 after walkout over organiser insults — AsiaOne / Yahoo News. https://www.asiaone.com/lifestyle/mexico-walkout-crowned-miss-universe-2025
Miss Universe 2025: controversy explained — walk-outs, tears and legal threats — The National. https://www.thenationalnews.com/lifestyle/2025/11/06/miss-universe-2025-controversy-explained-walk-outs-tears-and-legal-threats/
Miss Universe 2025 controversial pageant: ‘falls, feuds and fury’ — The Guardian. https://www.theguardian.com/world/2025/nov/21/miss-universe-2025-controversial-pageant-mexico-fatima-bosch-crowned

