Perempuan, Ketahanan Keluarga, dan Ketegasan Negara: Refleksi Filosofis atas Kepemimpinan dan Pembangunan Indonesia

Redaksi
November 23, 2025, November 23, 2025 WIB Last Updated 2025-11-23T15:35:47Z
Jakarta, Keputusan saya menerima amanah sebagai National Director Indonesia 2023–2024 bukanlah keputusan spontan. Amanah itu saya terima setelah melalui proses kontemplasi panjang mengenai betapa besarnya peran perempuan dalam pembangunan bangsa. Dalam perjalanan karier, saya melihat bahwa diskursus pemberdayaan perempuan sering terpaku pada peningkatan akses ekonomi, partisipasi publik, atau mobilitas sosial. Padahal, kontribusi perempuan jauh melampaui indikator-indikator tersebut. Perempuan adalah pilar utama pembentukan ketahanan keluarga, penguat karakter sosial, dan penjaga nilai-nilai dasar bangsa.



Sejalan dengan itu, saya memandang pentingnya kembali menempatkan keluarga sebagai unit fundamental pembangunan manusia. Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 menegaskan bahwa pembangunan kependudukan tidak hanya mencakup aspek kuantitas dan kualitas penduduk, tetapi juga ketahanan keluarga sebagai fondasi kehidupan bangsa.


 Dalam pengamatan saya, melemahnya fungsi keluarga menjadi salah satu penyebab meningkatnya kerentanan sosial di berbagai lapisan masyarakat. Karena itu, fokus pada keluarga adalah fokus pada masa depan bangsa.


Rumah Perlindungan Anak dan Pendidikan Keluarga sebagai Basis Intervensi Sosial

Sejak 2018, saya terlibat aktif dalam sosialisasi Rumah Perlindungan Anak dan Pendidikan Keluarga. 

Inisiatif tersebut saya dorong karena melihat semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi anak dan remaja: kemudahan akses terhadap konten merusak, kekerasan domestik, tekanan kelompok sebaya, hingga gaya hidup permisif yang sering kali tidak terkontrol. Persoalan-persoalan tersebut tidak semata-mata dapat diselesaikan melalui intervensi pendidikan formal. Justru, ia berkaitan erat dengan melemahnya peran keluarga dalam membangun disiplin, kasih sayang, dan rasa aman.


Dalam berbagai diskusi lapangan, saya menemukan bahwa banyak anak tumbuh dalam pola asuh yang tidak konsisten ketika orang tua sibuk, minim interaksi, dan tidak mampu menjadi teladan moral bagi anak-anak mereka. Dalam kondisi demikian, anak mencari identitasnya sendiri melalui lingkungan luar yang tidak selalu tepat. Karena itu, pendidikan keluarga harus ditempatkan sebagai prioritas nasional. Penguatan keluarga adalah penguatan bangsa.

Menimbang Tuduhan Konservatisme: Sebuah Kajian Filosofis

Tidak sedikit pihak yang menilai pandangan saya konservatif, terutama mengenai isu keluarga berencana, peran ibu, serta hubungan perempuan dengan pembangunan. Namun, tuduhan tersebut sering kali muncul tanpa dasar historis maupun filosofis yang kuat. Untuk menjawab anggapan itu, saya menelaah pemikiran dua tokoh dunia yang konsisten membahas relasi antara perempuan, keluarga, dan ketahanan negara: Presiden Soekarno dari Indonesia dan Presiden Vladimir Putin dari Rusia.

Soekarno: Perempuan sebagai “Ibu Bangsa”

Soekarno dalam berbagai pidatonya menegaskan bahwa perempuan memiliki peran yang tidak tergantikan dalam perjalanan bangsa. Ia menolak konsep pembatasan kelahiran secara kaku karena meyakini bahwa kekuatan bangsa terletak pada jumlah dan kualitas penduduknya. Dalam pandangannya, perempuan bukanlah “pengikut”, melainkan Ibu Bangsa yang melahirkan dan membesarkan generasi pejuang. Konsep ini menunjukkan bahwa peran perempuan jauh lebih besar daripada sekadar partisipasi di ruang publik.

Putin: Ketegasan Negara dan Fondasi Keluarga

Vladimir Putin, dalam berbagai kebijakan dan pernyataannya, menegaskan pentingnya ketahanan sosial melalui perlindungan terhadap generasi muda. Baginya, penyalahgunaan narkoba dan alkohol adalah ancaman langsung terhadap kekuatan nasional. Dalam sebuah pernyataan resmi, ia menegaskan bahwa menjadi ibu adalah “takdir luar biasa bagi perempuan” bukan dalam makna pembatasan, melainkan pengakuan bahwa perempuan memegang peran sentral dalam menjaga peradaban Rusia.

Makna filosofis dari dua tokoh tersebut memperlihatkan bahwa keberpihakan pada keluarga bukanlah ciri konservatisme, tetapi bagian dari strategi pembangunan jangka panjang.

Ketegasan Negara terhadap Ancaman Sosial: Relevansi bagi Indonesia

Indonesia sedang berada pada fase penting menuju Indonesia Emas 2045. Generasi yang kini berusia 5–20 tahun akan menjadi pemimpin bangsa pada periode tersebut. Karena itu, kondisi moral, kesehatan, dan kualitas karakter generasi ini harus dijaga dengan serius. Penyalahgunaan narkoba, alkohol, dan gaya hidup destruktif membawa dampak langsung terhadap produktivitas nasional.

Rusia memberikan contoh bagaimana negara harus hadir dengan tegas terhadap ancaman-ancaman tersebut. Ketegasan itu bukan hanya dalam bentuk penindakan hukum, tetapi juga melalui regulasi sosial, program pendidikan, serta gerakan publik yang secara konsisten membangun kesadaran kolektif.

Indonesia membutuhkan langkah serupa. Ketegasan negara terhadap narkoba dan alkohol bukan hanya persoalan kriminalitas, tetapi persoalan masa depan bangsa.

Gerakan Self-Love sebagai Strategi Pembangunan Pemuda

Salah satu pendekatan yang saya dorong dalam kepemimpinan organisasi pemuda adalah gerakan self-love atau kecintaan terhadap diri sendiri sebagai dasar pembentukan karakter. Self-love bukan sekadar slogan populer, tetapi kesadaran etis bahwa setiap individu bertanggung jawab menjaga tubuh, pikiran, dan masa depannya. Pemuda yang mencintai dirinya tidak akan merusak diri dengan narkoba, alkohol, perilaku bebas, ataupun kebiasaan destruktif lainnya.

Gerakan self-love harus menjadi bagian dari program penguatan karakter nasional. Dapat diwujudkan melalui Rumah Perlindungan Diri yakni ruang yang membimbing pemuda untuk mengenal nilai, tujuan hidup, disiplin diri, dan kemampuan mengambil keputusan sehat.

Refleksi Filosofis atas Peran Perempuan dalam Pembangunan

Perempuan modern sering dipertentangkan dengan peran keibuan. Padahal, sejarah pemikiran menunjukkan bahwa peran perempuan di ranah domestik dan publik tidak harus bertentangan. Perempuan dapat menjadi pemimpin, profesional, dan kreator perubahan sosial, sekaligus menjadi penjaga nilai di dalam keluarga. Kombinasi keduanya justru melahirkan generasi yang berkualitas.

Dalam kerangka tersebut, perempuan tidak boleh direduksi menjadi sekadar indikator kinerja ekonomi. Perempuan adalah pusat peradaban. Mereka membentuk tata nilai, mengajarkan empati, membangun ketahanan moral, dan melahirkan kader-kader bangsa.

Standar Etika Kepemimpinan dalam Pemilihan Miss, Mrs, dan Mister Indonesia

Sebagai National Director Indonesia, saya memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa individu yang mewakili Indonesia di panggung internasional benar-benar mencerminkan karakter bangsa. Saya menolak pemahaman bahwa pencitraan media, popularitas, atau jaringan komunitas dapat mengubah fakta pribadi seorang kandidat. Indonesia tidak boleh diwakili oleh figur yang memiliki rekam jejak bermasalah dalam penyalahgunaan alkohol, gaya hidup pesta, atau perilaku yang tidak mencerminkan nilai luhur bangsa.

Indonesia pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan ketika kontestan dengan gaya hidup tidak terkontrol menjadi sorotan di portal pageant internasional. Foto dan video yang tersebar mencederai martabat negara. Pengalaman itu tidak boleh terulang.

Karena itu:

Sepuluh Gerakan Self-Love menjadi standar resmi penilaian.

Semua kandidat harus melalui proses kurasi karakter.

Organisasi harus tertib, terstruktur, dan berorientasi pada visi kebangsaan.

Perwakilan Indonesia harus mencerminkan kualitas moral, disiplin, dan integritas tinggi bukan sekadar penampilan fisik.

Penutup

Pandangan saya mengenai perempuan, ketahanan keluarga, dan ketegasan negara terhadap ancaman sosial berangkat dari refleksi panjang, bukan dari kecenderungan konservatif. Indonesia membutuhkan generasi yang kuat, keluarga yang kokoh, dan perempuan yang berdaya secara filosofis maupun praktis. Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, kita harus kembali memperkuat fondasi keluarga, ketahanan moral pemuda, serta standar etika dalam setiap representasi bangsa di tingkat internasional.

Dengan komitmen tersebut, saya berharap Indonesia dapat tampil sebagai bangsa yang unggul bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga dalam karakter, martabat, dan identitasnya.

Novita Sari Yahya
National Director Indonesia 2023–2024, Penulis dan Peneliti

Daftar Pustaka

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
https://peraturan.bpk.go.id/

2. RFERL. (2023). Putin Says Motherhood Is a “Destiny” for Women.
https://www.rferl.org/a/russia-putin-women-preordination-motherhood/32853835.html

3. Historia. (2022). Keluarga Berencana ala Bung Karno.
https://www.historia.id/politik/articles/keluarga-berencana-ala-bung-karno

4. BKKBN. (2020). Ketahanan Keluarga dan Pembangunan SDM Indonesia.
https://www.bkkbn.go.id/

5. UNODC. (2019). World Drug Report 2019.
https://www.unodc.org/unodc/en/frontpage/2019/June/world-drug-report-2019.html

6. Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon & Schuster.
https://books.google.com/books?id=rd2ibodep7UC

7. Giddens, A. (1992). The Transformation of Intimacy. Stanford University Press.
https://www.sup.org/books/title/?id=2625
Komentar

Tampilkan

  • Perempuan, Ketahanan Keluarga, dan Ketegasan Negara: Refleksi Filosofis atas Kepemimpinan dan Pembangunan Indonesia
  • 0

Terkini

Pimpinan