Gibran Pastikan PSN Tol Semarang–Demak Tepat Target
Dorong Integrasi Giant Sea Wall dan Kolam Retensi Jadi Benteng Nadi Logistik Jawa
|| Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung progres pembangunan Jalan Tol Semarang–Demak Seksi 1 di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (15/2/2026). Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan proyek strategis nasional (PSN) yang juga berfungsi sebagai tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall itu berjalan sesuai target guna mengatasi krisis banjir rob yang kian parah di pesisir Utara Jawa (Pantura).
Dalam kunjungannya, Gibran menegaskan arahan Prabowo Subianto agar pembangunan infrastruktur yang memiliki dampak langsung terhadap perlindungan lingkungan dan keselamatan masyarakat dipercepat tanpa mengesampingkan kualitas konstruksi.
“Kita ingin memastikan bahwa proyek ini tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga benar-benar memberikan solusi permanen bagi persoalan rob yang sudah berlangsung puluhan tahun,” ujar Gibran di sela peninjauan lapangan.
Kendal–Semarang–Demak Jadi Prioritas Giant Sea Wall
Tol Semarang–Demak menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam pembangunan Giant Sea Wall di pesisir Jawa. Infrastruktur ini diproyeksikan tidak hanya mengurai kemacetan parah di jalur logistik nasional, tetapi juga menjadi benteng utama pertahanan pesisir Semarang dan Demak dari ancaman penurunan muka tanah (land subsidence) serta kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim.
Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah–DIY, M Iqbal Tamher, menjelaskan bahwa pemerintah menargetkan jalan tol tersebut dapat terhubung sepenuhnya pada pertengahan 2027.
“Beliau berharap kecepatan pelaksanaan pekerjaan bisa dijaga agar jalan tol yang kita rencanakan pertengahan 2027 sudah bisa terhubung sepenuhnya,” ujar Iqbal.
Menurutnya, tujuan utama pembangunan tol ini adalah memecah kemacetan kronis di ruas jalan nasional Kaligawe–Sayung yang selama ini menjadi titik rawan banjir rob. Setiap kali air pasang meluap, jalur tersebut kerap terendam sehingga arus kendaraan, khususnya truk logistik, tersendat berjam-jam.
Sebagai jalur nadi logistik Pulau Jawa, hambatan di titik tersebut sering memicu kerugian ekonomi besar akibat keterlambatan distribusi barang. Pemerintah menilai keberadaan tol ini akan memangkas waktu tempuh, meningkatkan efisiensi distribusi, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi kawasan.
Proyek Bernilai Rp10,9 Triliun
Jalan Tol
Semarang–Demak dirancang dengan total panjang 26,7 kilometer dan terbagi ke dalam dua seksi. Seksi 1 Semarang/Kaligawe–Sayung memiliki panjang 10,39 kilometer dan saat ini dalam tahap konstruksi intensif. Sementara Seksi 2 Sayung–Demak sepanjang 16,31 kilometer telah lebih dulu beroperasi sebagian.
Proyek ini menelan investasi sekitar Rp10,9 triliun. Salah satu keunikan konstruksinya adalah penggunaan teknologi bamboo piles atau matras bambu sebagai struktur penguat tanah lunak di dasar laut. Metode ini menjadi inovasi teknik sipil pertama di Indonesia untuk skala pembangunan jalan tol di atas kawasan pesisir berlumpur.
Teknologi tersebut dipilih karena kondisi tanah di wilayah Pantura yang sangat lunak dan rentan mengalami penurunan. Dengan sistem penguatan tersebut, diharapkan struktur jalan lebih stabil dan memiliki daya tahan jangka panjang terhadap tekanan air laut serta beban kendaraan berat.
Integrasi Giant Sea Wall dan Kolam Retensi
Selain fungsi konektivitas, proyek ini dirancang terintegrasi dengan sistem pengendalian banjir rob. Jalan tol akan berfungsi sebagai tanggul laut raksasa yang menahan limpasan air pasang agar tidak masuk ke kawasan permukiman.
Infrastruktur ini juga dihubungkan dengan Kolam Retensi Terboyo dan Sriwulan yang berfungsi menampung serta memompa air keluar saat banjir melanda. Dengan sistem pompa modern, genangan air di kawasan industri dan perumahan diharapkan dapat surut lebih cepat.
Gibran secara khusus meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang mengoptimalkan kolam retensi tersebut sebagai sumber air baku. Strategi ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan air tanah yang selama ini dituding sebagai penyebab utama percepatan penurunan muka tanah di wilayah Pantura.
“Catatan beliau jelas, kondisi Pantura harus segera ditahan laju robnya. Peninjauan ini melihat langsung bagaimana konektivitas dan perlindungan lingkungan bisa berjalan beriringan,” tegas Iqbal.
Model Infrastruktur Adaptif Perubahan Iklim
Dengan target operasional penuh pada Juni 2027, Tol Semarang–Demak diharapkan menjadi model pembangunan infrastruktur adaptif terhadap perubahan iklim di Indonesia. Pemerintah menilai proyek ini bukan sekadar pembangunan jalan, melainkan solusi terpadu yang menggabungkan fungsi transportasi, pengendalian banjir, dan pengelolaan sumber daya air.
Kehadiran tol sekaligus tanggul laut tersebut diharapkan mampu memberikan perlindungan jangka panjang bagi warga pesisir di Semarang, Demak, hingga wilayah sekitarnya. Jika berhasil, pendekatan serupa akan dipertimbangkan untuk diterapkan di titik-titik rawan rob lainnya di sepanjang Pantura.
Dengan percepatan yang terus dikawal pemerintah pusat dan daerah, proyek ini menjadi simbol komitmen negara dalam menghadirkan infrastruktur yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melindungi lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Red-Ervinna