Notification

×

Iklan

Iklan

DPR Soroti Dampak Pembelajaran Daring, Esti Wijayati Ingatkan Risiko Penurunan Kualitas Pendidikan

Maret 24, 2026 | Maret 24, 2026 WIB Last Updated 2026-03-24T06:40:49Z
DPR Soroti Dampak Pembelajaran Daring, Esti Wijayati Ingatkan Risiko Penurunan Kualitas Pendidikan
Jakarta, neodetik.com 
|| Penerapan pembelajaran daring yang sempat dilakukan selama pandemi Covid-19 kembali menjadi sorotan. Wakil Ketua Komisi X DPR, Esti Wijayati, menilai sistem tersebut meninggalkan berbagai persoalan serius yang hingga kini masih dirasakan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Dalam keterangannya pada (23/3/2026), Esti mengungkapkan bahwa pembelajaran jarak jauh yang sebelumnya diterapkan sebagai solusi darurat justru memunculkan tantangan baru yang kompleks.

Menurutnya, meskipun kebijakan tersebut relevan pada masa krisis kesehatan, dampak jangka panjangnya tidak bisa diabaikan.
“Pembelajaran secara daring pernah kita laksanakan ketika terjadi wabah Covid-19. Dan kita semua tahu sistem tersebut meninggalkan problem yang tidak sederhana bagi dunia pendidikan kita,” ujar Esti.

Ia menjelaskan bahwa salah satu dampak paling terasa adalah menurunnya kemampuan siswa dalam menyerap materi pelajaran. Keterbatasan interaksi langsung antara guru dan siswa membuat proses penyampaian materi tidak berjalan optimal.

Banyak siswa mengalami kesulitan memahami pelajaran, terutama pada mata pelajaran yang membutuhkan penjelasan mendalam dan praktik langsung.
Selain itu, Esti juga menyoroti menurunnya tingkat kedisiplinan siswa selama pembelajaran daring berlangsung.

Minimnya pengawasan serta fleksibilitas waktu yang tidak terkontrol menyebabkan sebagian siswa kurang serius dalam mengikuti kegiatan belajar. Hal ini berdampak pada rendahnya partisipasi aktif dan menurunnya motivasi belajar.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pembelajaran daring turut memengaruhi proses pembentukan karakter siswa. Lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat pembinaan sikap, etika, dan interaksi sosial tidak dapat tergantikan secara maksimal melalui sistem daring.

Akibatnya, aspek pendidikan karakter yang selama ini menjadi bagian penting dalam kurikulum menjadi kurang optimal.
Tidak hanya itu, kendala teknologi juga menjadi faktor utama yang memperparah kondisi. 

Esti mengungkapkan bahwa masih banyak siswa di berbagai daerah yang belum memiliki akses memadai terhadap perangkat digital maupun jaringan internet.

Kesenjangan ini menyebabkan ketidakmerataan kualitas pendidikan, terutama antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.
“Tidak semua siswa memiliki fasilitas yang memadai. Ini membuat proses belajar menjadi tidak merata dan cenderung memperlebar kesenjangan pendidikan,” tambahnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Esti sebagai respons terhadap munculnya wacana penerapan kembali sistem sekolah daring dengan alasan efisiensi anggaran.

Ia mengingatkan bahwa kebijakan tersebut perlu dikaji secara mendalam agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Menurutnya, efisiensi anggaran memang penting, namun tidak boleh mengorbankan kualitas pendidikan. Ia mendorong pemerintah untuk mencari alternatif solusi yang lebih seimbang, seperti peningkatan kualitas pembelajaran tatap muka, pemanfaatan teknologi secara hybrid, serta pemerataan akses pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.

Esti berharap ke depan pemerintah dapat merumuskan kebijakan pendidikan yang tidak hanya mempertimbangkan aspek ekonomi, tetapi juga dampak jangka panjang terhadap perkembangan siswa. Dengan demikian, sistem pendidikan nasional dapat tetap adaptif tanpa mengabaikan kualitas dan pemerataan.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang berkualitas, tanpa terkendala oleh sistem yang justru melemahkan proses belajar itu sendiri,” pungkasnya.

Red-Ervinna
×
Berita Terbaru Update