KABUPATEN BOGOR – Neodetik.com || Sikap dan perilaku Camat Cibinong, Drs. H. Acep Sajidin, M.Si, kini menjadi sorotan tajam sekaligus kecaman keras dari publik dan insan pers. Pasalnya, pejabat kepala wilayah ini terbukti melakukan kebohongan publik dan memanipulasi informasi terkait isu pembangunan gedung Ruko di kawasan Cirimekar yang diduga kuat dibangun tanpa izin serta dibiarkan berlangsung pelanggaran.19/05/26
Di satu sisi, saat ditemui dan dikonfirmasi secara langsung, Acep Sajidin dengan santai mengaku sudah memberikan keterangan dan merespons setiap pertanyaan wartawan. Namun fakta di lapangan serta bukti jejak komunikasi membuktikan sebaliknya: selama ini ia bersikap angkuh, mengabaikan segala upaya konfirmasi melalui telepon maupun pesan aplikasi WhatsApp, dan sama sekali tidak pernah memberikan tanggapan apa pun. Kebohongan ini semakin menegaskan indikasi pembiaran pelanggaran aturan, serta mempertegas ketidaklayakan dirinya menduduki jabatan strategis tersebut. Publik pun bersatu suara menuntut Bupati Bogor Rudy Susmanto segera mengevaluasi kinerja dan menjatuhkan sanksi tegas.
FAKTA TERPAPAR: FAKTANYA DIAM SERIBU BAHASA SAAT DI HUB TIDAK ADA TANGGAPAN.
Kasus ini bermula dari maraknya pemberitaan dan laporan warga mengenai pembangunan ruko besar di kawasan Cirimekar. Lokasi pembangunan ini sangat strategis, berada di jalur utama, dan sangat dekat dengan Kantor Kecamatan Cibinong serta Kantor UPT Perizinan. Padahal, berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 63 Tahun 2017, pendirian bangunan komersial dan toko modern sejenis dilarang keras dan diberlakukan moratorium. Namun pembangunan itu berjalan lancar tanpa hambatan, menimbulkan dugaan kuat adanya pembiaran dari pihak Kecamatan.
Saat tim redaksi dan sejumlah awak media berusaha melakukan konfirmasi untuk mendapatkan penjelasan resmi, apa yang dilakukan Camat Acep Sajidin sangat mencoreng citra pejabat publik:
MENGABAIKAN KOMUNIKASI: Berulang kali nomor telepon seluler yang terdaftar milik Camat dihubungi, namun tidak pernah diangkat. Pesan-pesan yang dikirimkan melalui aplikasi WhatsApp—mulai dari pemberitahuan, permintaan waktu, hingga daftar pertanyaan—telah terkirim dan terbaca, namun TIDAK PERNAH DIBALAS DAN DITANGGAPI SEDIKITPUN. Sikapnya sangat angkuh, seolah tidak membutuhkan publikasi dan tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi di wilayahnya.
BERBOHONG KEPADA WARTAWAN: Ironisnya, saat berpapasan atau dikonfirmasi ulang, Acep Sajidin justru dengan tenang berkilah: "Saya sudah merespon, sudah saya jawab, kan sudah saya kasih tahu kemarin," atau kalimat serupa yang menyiratkan dirinya sudah kooperatif dan memberikan keterangan. Padahal faktanya, tidak ada satu pun keterangan tertulis maupun lisan yang diterima oleh awak media. Ia berbohong demi menutupi ketidakmampuan atau ketidaksanggupannya menjawab isu pembiaran tersebut.
"Ini keterlaluan. Kami berusaha profesional menghubungi lewat jalur resmi, WA dibaca tapi tak dibalas. Eh pas ketemu malah ngaku-ngaku sudah kasih keterangan. Ini namanya membohongi kami, membohongi publik, dan memanipulasi fakta. Kalau memang dia bersih, kenapa takut bicara? Kenapa harus berbohong?" ungkap salah satu wartawan yang mengkonfirmasi.tutupnya
Red-ed