-->

Notification

×

Alan Somantri: Pelabelan "Londo Ireng" oleh Prabowo adalah Serangan Terhadap Demokrasi dan Ruang Kritis

Juli 26, 2026 | Juli 26, 2026 WIB Last Updated 2026-07-26T03:57:31Z
JAKARTA —Neodetik.com || Pengamat sekaligus pemerhati media sosial, Alan Somantri, mengkritik keras pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyamakan wartawan, pengamat, ekonom, hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan istilah kolonial "Londo Ireng" (Belanda Hitam). Menurut Alan, pelabelan tersebut merupakan bentuk serangan verbal yang berbahaya bagi masa depan kebebasan berpendapat dan ruang demokrasi di Indonesia.
Pernyataan kontroversial tersebut disampaikan oleh Presiden Prabowo saat memberikan pidato dalam acara Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di Jakarta, Kamis (23/7/2026). Dalam pidatonya, Presiden mengeluhkan media yang dianggap hanya fokus mencari kesalahan pemerintah—seperti memotret sekolah rusak—serta menuduh kelompok kritis bekerja untuk kepentingan asing demi melemahkan bangsa.

"Menyamakan profesi jurnalis, pengamat, dan aktivis dengan 'Londo Ireng'—yang secara historis dicap sebagai antek penjajah atau pengkhianat bangsa—adalah stigmatisasi yang sangat serius. Ini bukan sekadar kritik balik dari penguasa, melainkan upaya mendiskreditkan kebenaran dan menggiring opini publik agar antipati terhadap kontrol sosial," ujar Alan Somantri saat dihubungi, Minggu (26/7/2026).

Alan menilai, fungsi pers dan pengamat adalah sebagai penyeimbang kekuasaan (check and balances). Ketika media massa mengangkat isu fasilitas publik yang rusak seperti sekolah, hal itu merupakan fakta lapangan yang bertujuan agar pemerintah segera melakukan perbaikan, bukan untuk menjatuhkan wibawa negara.

Lebih lanjut, Alan mengkhawatirkan dampak dari narasi negatif yang keluar langsung dari mulut seorang kepala negara. Di era digital saat ini, pernyataan seperti itu sangat mudah diamplifikasi oleh netizen di media sosial, yang berpotensi memicu polarisasi digital hingga tindakan persekusi nyata terhadap jurnalis atau pihak-pihak yang vokal mengkritik kebijakan pemerintah.

Oleh karena itu, Alan mendesak Presiden Prabowo untuk mengklarifikasi pernyataannya dan menghentikan narasi yang membenturkan antara pemerintah dan kelompok masyarakat sipil.

"Pemerintah yang kuat seharusnya tidak alergi terhadap kritik. Ruang digital dan media konvensional harus tetap sehat, objektif, dan bebas dari intimidasi verbal agar iklim demokrasi kita tidak mengalami kemunduran ke arah otoritarianisme," pungkas Alan. (MRC)

Red- ed 
×
Berita Terbaru Update