BANJARNEGARA,-Neodetik.com || Duka mendalam kembali menyelimuti dunia pemasyarakatan. Seorang suami sekaligus ayah, warga binaan Rutan Banjarnegara, ditemukan meninggal dunia di ruang sel isolasi. 16/9/26.
Diduga mengakhiri hidupnya sendiri. Peristiwa ini terjadi tak lama setelah muncul kabar dugaan penganiayaan warga binaan oleh oknum sipir di tempat yang sama.
Dua peristiwa kelam dalam waktu berdekatan — ini bukan sekadar kebetulan, melainkan lonceng bahaya yang memekakkan telinga pihak pengelola Rutan Banjarnegara.
RUAN PEMBINAAN ATAU RUANG KEPUTUSASAAN?
Rutan seharusnya menjadi tempat pembinaan, tempat seseorang dibimbing untuk menjadi lebih baik.
Bukan tempat yang mematikan harapan, memupuk keputusasaan, hingga nyawa sendiri dijadikan jalan keluar. Jika dalam hitungan hari muncul dugaan penganiayaan dan diikuti kematian di sel isolasi, maka ada yang sangat salah di balik tembok Rutan Banjarnegara.
Di mana mata pengawas? Di mana hati para petugas?
KEKERASAN DAN TEKANAN HARUS DIUSUT TUNTAS
Jika benar terdapat kekerasan, penyiksaan, tekanan mental, maupun pelanggaran prosedur yang menumpuk hingga mematikan harapan warga binaan, maka semua pihak yang terlibat harus diusut secara transparan dan dipertanggungjawabkan di hadapan hukum.
Ini bukan zaman kompeni. Ini bukan pula zaman di mana kekuasaan di balik tembok bisa disalahgunakan tanpa ada yang tahu. Ini bukan zaman di mana sewenang-wenang terhadap manusia bisa dibiarkan begitu saja. Setiap warga binaan tetap manusia, tetap memiliki hak, tetap berharga di mata hukum.
JANGAN SAMPAI NYAWA JADI HARGA LEMAHNYA PENGAWASAN
Kebenaran harus dibuka secepatnya. Seluruh proses sebelum kematian harus ditelusuri: jam jaga, catatan kunjungan, kondisi sebelum ditemukan, hingga alasan penempatan di sel isolasi. Pengawasan harus diperketat, bukan diabaikan. Jika terbukti ada pelanggaran hukum maupun kode etik, pelakunya harus diproses dan diberi sanksi setimpal tanpa pandang bulu.
Jangan sampai nyawa manusia menjadi harga yang harus dibayar hanya karena lemahnya pengawasan, karena tutup mata di balik tembok Rutan Banjarnegara.
Kami menuntut:
- Inspeksi mendadak dan menyeluruh oleh tim independen ke Rutan Banjarnegara
- Pengungkapan transparan kronologi kematian warga binaan di sel isolasi
- Pemeriksaan pihak yang diduga terlibat dalam penganiayaan maupun kelalaian
- Evaluasi menyeluruh sistem pengawasan dan penempatan di sel isolasi
Rutan bukan tempat untuk mematikan harapan. Jika sistemnya rusak, perbaikilah. Jika manusianya salah, hukumlah. Jangan biarkan kematian ini menjadi sekadar berita yang berlalu.
Red-tim