Survei Indekstat: Kepuasan Publik Terhadap Kinerja Prabowo Capai 79,2 Persen Dalam 16 Bulan Pemerintahan
|| Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mencapai 79,2 persen dalam satu tahun empat bulan masa pemerintahannya.
Angka tersebut terungkap dalam hasil survei nasional yang dirilis oleh Indekstat Konsultan Indonesia pada akhir pekan lalu.
Survei dilaksanakan pada 11–25 Januari 2026 dengan melibatkan 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi di seluruh Indonesia. Metode yang digunakan adalah persampelan rawak berbilang peringkat (multistage random sampling), dengan margin of error sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Pengarah Indekstat, Ali Mahmudin, menjelaskan bahwa secara umum hasil survei menunjukkan tingkat penerimaan publik yang sangat baik terhadap jalannya pemerintahan saat ini.
Menurutnya, persepsi positif tersebut tidak hanya tercermin pada angka kepuasan, tetapi juga pada menguatnya optimisme masyarakat terhadap masa depan bangsa.
Kepuasan Tinggi di Indonesia Timur
Berdasarkan pemetaan wilayah, tiga dari lima kawasan besar mencatatkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi. Kalimantan menempati posisi teratas dengan 96,66 persen, disusul Sulawesi sebesar 95,28 persen, serta Maluku-Papua dengan 93,16 persen.
Sementara itu, Jawa berada di angka 88,97 persen dan Sumatera 86,72 persen.
“Jika dilihat berdasarkan pulau serantau, kawasan Indonesia Timur menunjukkan apresiasi yang sangat kuat terhadap kinerja pemerintah. Sementara Jawa dan Sumatera tetap tinggi, namun dinamika sosial dan arus informasi yang lebih cepat turut memengaruhi daya kritis masyarakat,” ujar Ali.
Temuan ini mengindikasikan bahwa pemerintahan Prabowo bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memiliki basis dukungan yang kokoh di kawasan Indonesia Timur. Hal tersebut dinilai sebagai sinyal positif bahwa agenda pemerataan pembangunan, penguatan infrastruktur, dan distribusi program sosial di luar Jawa mendapat respons luas dari masyarakat.
Pemberantasan Korupsi Jadi Faktor Penentu
Salah satu faktor utama yang mendorong tingginya tingkat kepuasan publik adalah komitmen pemerintah dalam pemberantasan korupsi dan penguatan tata kelola pemerintahan.
Responden menilai langkah-langkah tegas dalam penegakan hukum, transparansi kebijakan, serta pengawasan penggunaan anggaran sebagai indikator penting keberhasilan pemerintahan.
Selain itu, stabilitas politik yang relatif terjaga dan kesinambungan program pembangunan nasional turut memperkuat persepsi positif masyarakat.
Namun demikian, tingkat ketidakpuasan yang relatif lebih tinggi di wilayah Jawa dan Sumatera dinilai mencerminkan ekspektasi publik yang besar, terutama terkait stabilitas ekonomi, daya beli masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan pengendalian harga kebutuhan pokok.
Optimisme Publik Menguat
Sejalan dengan tingginya kepuasan, survei juga mencatat peningkatan keyakinan masyarakat terhadap masa depan Indonesia. Kawasan Indonesia Timur kembali mencatatkan optimisme tertinggi, dengan Sulawesi sebesar 93,89 persen, Kalimantan 86,81 persen, dan Maluku 85,48 persen.
Adapun Jawa berada di angka 80,97 persen dan Sumatera 82,45 persen.
Menurut Ali, data ini konsisten dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa wilayah-wilayah di luar pusat ekonomi nasional merasakan dampak langsung dari percepatan pembangunan.
“Ini menunjukkan adanya korelasi antara persepsi manfaat pembangunan dengan tingkat optimisme. Ketika masyarakat merasakan dampak nyata, maka keyakinan terhadap arah pemerintahan ikut menguat,” jelasnya.
Meski demikian, wilayah barat dan kawasan urban tetap menunjukkan optimisme yang solid walaupun disertai sikap lebih kritis. Kelompok masyarakat di daerah ini dinilai memiliki harapan tinggi terhadap percepatan reformasi ekonomi, inovasi industri, serta penguatan sektor usaha kecil dan menengah.
Perbedaan Persepsi Antar Generasi
Dari sisi demografi generasi, tingkat keyakinan terhadap masa depan pemerintahan paling tinggi berada pada Generasi X sebesar 86,40 persen, disusul Baby Boomers 85,88 persen, Milenial 83,77 persen, dan Generasi Z 76,88 persen.
Ali menjelaskan bahwa Generasi Z memiliki tingkat keyakinan paling rendah sekaligus tingkat ketidakyakinan paling tinggi, yakni 21,21 persen. Meski demikian, mayoritas kelompok ini tetap menyatakan optimis terhadap arah pemerintahan.
“Gen Z cenderung lebih kritis dan reflektif. Mereka sangat sensitif terhadap isu-isu pekerjaan, upah, mobilitas sosial, serta peluang karier di era digital. Generasi muda tetap menunjukkan optimisme, namun disertai sikap evaluatif yang kuat terhadap kebijakan publik,” terang Ali.
Fenomena ini dinilai sebagai dinamika yang sehat dalam demokrasi, di mana generasi muda berperan aktif mengawasi dan memberi masukan terhadap arah pembangunan nasional.
Tantangan Menjaga Konsistensi
Secara keseluruhan, survei Indekstat menggambarkan bahwa pemerintahan saat ini memiliki fondasi optimisme yang luas secara geografis maupun demografis. Dukungan kuat di Indonesia Timur menjadi modal sosial-politik yang signifikan, sementara sikap kritis di wilayah barat dan kalangan muda menjadi pengingat penting bagi pemerintah untuk terus berinovasi dan responsif.
Ke depan, tantangan utama adalah menjaga konsistensi kebijakan agar optimisme yang tinggi di Indonesia Timur tetap terpelihara, sekaligus menjawab ekspektasi masyarakat di wilayah barat terkait stabilitas ekonomi dan peningkatan kesejahteraan.
Dengan tingkat kepuasan mendekati 80 persen dan optimisme publik yang relatif merata, pemerintahan Prabowo-Gibran memasuki tahun kedua dengan modal kepercayaan publik yang kuat. Namun, keberlanjutan dukungan tersebut akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas, memperkuat ekonomi rakyat, dan memastikan pemerataan pembangunan benar-benar dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
Red-Ervinna