Notification

×

Iklan

Iklan

Menlu Sugiono Tegaskan Kesiapan Indonesia Jadi Mediator Konflik Iran–Amerika Serikat di Tengah Eskalasi Timur Tengah

Maret 04, 2026 | Maret 04, 2026 WIB Last Updated 2026-03-04T08:04:45Z
Menlu Sugiono Tegaskan Kesiapan Indonesia Jadi Mediator Konflik Iran–Amerika Serikat di Tengah Eskalasi Timur Tengah
Jakarta, neodetik.com
|| Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, menegaskan kesiapan Indonesia untuk berperan sebagai fasilitator dalam konflik yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat (AS), serta dinamika ketegangan yang turut melibatkan Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan Menlu Sugiono usai melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada 2 Maret 2026. Percakapan itu membahas situasi terkini di kawasan Timur Tengah yang mengalami peningkatan eskalasi menyusul serangan yang menimpa Iran pada 28 Februari 2026.
“Berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada 2 Maret 2026 mengenai situasi yang meningkat di Timur Tengah,” ujar Menlu Sugiono dalam keterangannya, (3/3/2026).

Bahas Eskalasi Timur Tengah

Dalam pembicaraan tersebut, kedua menteri luar negeri membahas perkembangan situasi keamanan dan dampak kemanusiaan yang berpotensi timbul akibat eskalasi konflik. Sugiono menyampaikan keprihatinan Indonesia atas meningkatnya ketegangan yang berisiko memperluas instabilitas kawasan serta mengancam keselamatan warga sipil.

Serangan yang terjadi pada akhir Februari lalu disebut memicu reaksi keras dan meningkatkan tensi geopolitik di kawasan. Kondisi ini menambah panjang daftar konflik di Timur Tengah yang belum menemukan titik terang penyelesaian secara permanen.
Indonesia, menurut Sugiono, terus memantau perkembangan situasi dan berkomunikasi dengan berbagai pihak guna mendorong terciptanya stabilitas serta mencegah dampak yang lebih luas, baik secara regional maupun global.

Indonesia Siap Jadi Mediator

Dalam kesempatan tersebut, Sugiono menegaskan bahwa Indonesia siap memainkan peran konstruktif dalam mendorong perdamaian.

Ia menyatakan kesediaan Indonesia untuk memfasilitasi dialog atau menjadi mediator jika dibutuhkan oleh pihak-pihak terkait.
“Indonesia siap memainkan peran konstruktif dalam memajukan perdamaian, termasuk menawarkan kesediaan kami untuk memfasilitasi dialog atau mediasi, dengan tujuan bersama untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan menghentikan hilangnya nyawa orang tak bersalah secara tidak perlu,” tegasnya.

Langkah ini sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, yang secara konsisten mengedepankan diplomasi, dialog, serta penyelesaian konflik melalui jalur damai. Indonesia juga memiliki rekam jejak dalam berbagai misi perdamaian dunia, baik melalui diplomasi bilateral maupun partisipasi dalam misi penjaga perdamaian.

Seruan Menahan Diri dan Hormati Hukum Internasional

Selain menawarkan diri sebagai fasilitator, Sugiono juga mendesak seluruh pihak yang terlibat untuk menahan diri secara maksimal. Ia menekankan pentingnya de-eskalasi segera guna mencegah konflik meluas dan menimbulkan korban lebih banyak.
“Indonesia mendesak semua pihak untuk menahan diri secara maksimal dan segera melakukan de-eskalasi,” ujarnya.

Sugiono juga menegaskan bahwa setiap negara harus mengutamakan penyelesaian melalui diplomasi serta menjunjung tinggi hukum internasional dan prinsip-prinsip dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurutnya, penghormatan terhadap hukum internasional merupakan fondasi utama dalam menjaga perdamaian dan keamanan global.

Komitmen Perdamaian Global

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan anggota aktif berbagai forum internasional, Indonesia menilai stabilitas Timur Tengah memiliki dampak signifikan terhadap keamanan dan perekonomian global. Oleh karena itu, peran aktif dalam mendorong dialog dinilai penting sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan diplomatik Indonesia di panggung internasional.

Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan negara-negara sahabat serta organisasi internasional guna mencari solusi damai atas konflik yang terjadi. Harapannya, langkah-langkah diplomasi dapat segera meredakan ketegangan dan membuka ruang dialog yang konstruktif demi tercapainya perdamaian yang berkelanjutan.

Red-Ervinna
×
Berita Terbaru Update