Notification

×

Iklan

GAPURA PERCONTOHAN TAPI KACAU KESELAMATAN: PEKERJA TANPA APD, PENGAWAS DAN KONSULTAN DICAP TIDAK BEKERJA

April 30, 2026 | April 30, 2026 WIB Last Updated 2026-04-30T02:54:46Z
Kabupaten Bogor –neodetik.com || Proyek pembangunan gapura yang digadang-gadang akan menjadi ikon dan percontohan di lingkungan kawasan Pemda Kabupaten Bogor justru menyisakan keprihatinan serius. 30/04/26.

Di balik rencana megah itu, kenyataan di lapangan memperlihatkan pengabaian nyata terhadap aturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Bahkan, tugas pengawasan yang diamanatkan secara resmi kepada instansi pemerintah, konsultan, dan pengawas teknis terkesan dibiarkan lepas begitu saja.
 
Pantauan awak media di lokasi pekerjaan, sejumlah pekerja terlihat asyik bekerja tanpa perlengkapan keamanan dasar. Ada yang memanjat struktur bangunan hanya berbekal tangga sederhana, tanpa sabuk pengaman. Ada pula yang mengangkat material berat maupun mengolah bahan bangunan tanpa memakai helm pelindung, sarung tangan kerja, atau sepatu keselamatan. Padahal, aktivitas tersebut memiliki risiko tinggi, baik jatuh dari ketinggian maupun cedera akibat bahan kerja yang tajam atau berat.
 
Yang lebih memprihatinkan, keberadaan pengawas lapangan dan konsultan yang ditunjuk secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Bogor seolah hanya menjadi nama di kertas. Selama pengamatan berlangsung, tidak ada satupun petugas yang tampak turun tangan menegur, mengingatkan, apalagi memastikan seluruh standar keamanan diterapkan dengan benar. Padahal, fungsi utama mereka adalah menjamin agar setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai prosedur dan aturan yang berlaku.
 
“Kami bekerja seperti ini saja, tidak ada yang menyuruh pakai alat pengaman. Kalau ada petugas, mereka cuma lewat saja tidak melihat ke bawah,” ungkap salah seorang pekerja yang enggan disebutkan namanya, Rabu (30/4).
 
Kondisi ini jelas melanggar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja serta peraturan pelaksanaannya yang mewajibkan setiap pelaksana proyek menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) yang layak dan memastikan penggunaannya. Tidak hanya itu, hal ini juga mempertanyakan profesionalitas kontraktor yang ditugaskan, sebab keamanan nyawa pekerja seharusnya menjadi prioritas utama, bukan sekadar kecepatan pengerjaan atau hasil fisik bangunan semata.
 
Masyarakat pun mulai bersuara lantang. Mereka berharap pemerintah daerah lebih jeli dalam memilih mitra kerja. Bagi publik, kualitas bangunan memang penting, namun menjaga keselamatan dan nyawa manusia jauh lebih bernilai. Profesionalisme tidak hanya dilihat dari hasil akhir, tapi juga bagaimana proses pekerjaan dijalankan dengan disiplin, tertib, dan bertanggung jawab.
 
“Kalau mau jadi percontohan, jangan cuma bagus tampilannya, tapi juga harus jadi teladan cara membangun yang aman dan manusiawi. Jangan sampai gapura ini berdiri dengan mengorbankan keselamatan orang yang membangunnya,” tegas salah seorang warga yang tinggal di sekitar lokasi.
 
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak dinas terkait maupun manajemen kontraktor pelaksana. Publik menantikan langkah tegas, baik perbaikan sistem pengawasan maupun penerapan aturan K3 secara ketat sebelum proyek ini berlanjut lebih jauh.

Red- ed 
 
 
 

×
Berita Terbaru Update