Bogor,neodetik.com || Kemacetan parah yang terjadi hampir setiap hari di ruas jalan utama kawasan Ciawi, Kabupaten Bogor, ternyata bukan semata-mata disebabkan oleh volume kendaraan yang padat.2/5/26.
Berdasarkan pantauan di lapangan, penyebab utama yang membuat arus lalu lintas tersendat bahkan macet total hingga berjam-jam adalah ulah pengemudi angkutan kota (angkot) yang memarkirkan kendaraannya atau menunggu penumpang (ngetem) secara sembarangan, tepat di area lampu merah dan bahu jalan. Yang membuat warga semakin emosi dan bertanya-tanya, keberadaan pelanggaran yang nyata-nyata terlihat ini seolah dibiarkan begitu saja, seakan-akan tidak ada pengawasan atau penindakan dari petugas yang berwenang.
Kawasan Ciawi merupakan salah satu titik simpul transportasi yang sangat sibuk dan menjadi penghubung antara wilayah Bogor, Puncak, hingga Jakarta. Setiap harinya ribuan kendaraan melintas di jalan-jalan utama di sana. Namun belakangan ini, kondisi lalu lintas di wilayah tersebut semakin tidak tertib dan kacau. Keluhan masyarakat bukan hanya soal jalan yang padat, tetapi lebih kepada perilaku pengemudi angkot yang bertindak sesuka hati.
Seperti yang terlihat di lapangan, puluhan angkot dari berbagai trayek sengaja berhenti lama dan ngetem di pinggir jalan, bahkan berbaris memanjat hingga mendekati palang lampu merah. Padahal, area tersebut jelas dilarang untuk berhenti apalagi menunggu penumpang karena merupakan jalur utama yang harus selalu lancar demi kelancaran arus lintas. Namun para pengemudi ini seolah tidak peduli dengan rambu lalu lintas maupun keselamatan pengguna jalan lain. Mereka sengaja berhenti di sana karena dianggap tempat yang strategis untuk menjemput penumpang, tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan.
Akibatnya, jalan yang seharusnya cukup lebar untuk dilewati kendaraan, menjadi sempit dan tersumbat karena terpakai oleh angkot yang parkir sembarangan. Ketika lampu merah berganti menjadi hijau, kendaraan yang ada di belakangnya tidak bisa bergerak lancar karena jalur sudah terhalang oleh angkot yang masih betah berhenti. Hal ini kemudian memicu penumpukan kendaraan yang semakin panjang hingga menyebabkan kemacetan parah yang merembet ke jalan-jalan sekitarnya.
"Sangat menyebalkan dan melelahkan. Setiap kali lewat Ciawi pasti macet, padahal jalannya bagus dan lebar. Tapi lihat saja, di sepanjang jalan dan tepat di lampu merah selalu ada angkot yang berhenti mengular. Mereka ngetem berjam-jam sampai dapat penumpang banyak. Kalau ada penumpang naik baru mereka jalan, kalau tidak, diam saja di situ. Akibatnya kami yang terjebak macet berjam-jam," keluh Bapak Herman, seorang pengendara yang setiap hari melintas di jalur tersebut.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga setempat dan pedagang di sekitar lokasi. Mereka mengaku sudah lama mengalami kesulitan akibat kondisi lalu lintas yang kacau balau ini. Bahkan, sering terjadi kemarahan antar pengendara hingga pertengkaran karena tidak sabar menghadapi kemacetan yang sebenarnya bisa dihindari jika saja aturan dipatuhi.
Dimana Petugasnya?
Yang membuat masyarakat geram dan bingung, praktik pelanggaran yang nyata, masif, dan terjadi setiap hari ini seolah tidak pernah disentuh oleh penegak hukum. Padahal, jarak antara lokasi yang kacau dengan pos pengawasan lalu lintas maupun kantor Dinas Perhubungan tidaklah jauh. Setiap hari pelanggaran itu terjadi di depan mata publik, namun seakan-akan petugas tidak melihat atau sengaja menutup mata.
Banyak warga yang bertanya-tanya dan mempertanyakan tugas serta fungsi petugas. Apakah mereka tidak tahu atau memang tidak mau tahu? Mengapa pelanggaran yang begitu jelas merugikan orang banyak dibiarkan terus-menerus? Dugaan yang berkembang di masyarakat, para pengemudi angkot merasa aman dan bebas melakukan hal tersebut karena merasa sudah memiliki "jalur aman" atau perlindungan tertentu, sehingga petugas segan atau tidak berani menindak tegas.
"Kami sering melihat petugas lalu lintas lewat namun tetap di biarkan.
Red- ed