Ketua Investigasi Nasional La Omy La Tua Tegas Minta Peran Pemerintah Untuk Mengangkat Harkat dan Martabat Wartawan Jurnalis Indonesia
Jakarta,neodetik.com || Ketua Investigasi Nasional La Omy La Tua, Tegas Minta Peran Pemerintah Indonesia Untuk mengangkat Harkat dan Martabat Wartawan /Jurnalis karena menurutnya Peran Pemerintah sangat dibutuhkan apalagi Wartawan Indonesia merupakan pilar yang memberi cahaya penerang serta kontribusi nyata untuk kemajuan bangsa dan negara, ungkapnya.
Dimana Ketua Investigasi Nasional La Omy La Tua, menyampaikan bahwa suatu kesuksesan serta kemajuan bangsa salah satunya adalah peran serta Wartawan /Jurnalis, yang telah memberi kontribusi nyata dalam menyajikan Informasi untuk kepentingan publik sehinggah pemerintah berkewajiban menciptakan kebijakan yang mendukung kebebasan pers dan melindungi hak-hak wartawan, pemerintah dapat berperan penting dalam meningkatkan harkat dan martabat /derajat Wartawan /Jurnalis di seluruh Indonesia, tuturnya.
Apalagi karya nyata yang di sajikan oleh Wartawan /Jurnalis di seluruh Indonesia bahkan juga mendapat dukungan masyarakat luas di tanah air, terhadap karya jurnalistik dan penghargaan terhadap profesi wartawan juga dapat meningkatkan harkat dan derajat mereka yang telah berperan dalam meningkatkan kemampuan dan profesionalisme wartawan, serta memperjuangkan hak-hak masyarakat secara luas di Indonesia, ujarnya.
Selain itu, Ketua Investigasi Nasional La Omy La Tua, juga menyatakan hadirnya Wartawan /Jurnalis Indonesia Pemerintah dapat memberi kesempatan untuk berkembang serta dapat meningkatkan kualitas karya jurnalistik, media nyata dapat membantu meningkatkan harkat dan derajat serta meningkatkan kemajuan Bangsa dan Negara melalui karaya -karya nyata Wartawan itu sendiri.
"Tentunya Wartawan /Jurnalis Indonesia juga dapat meningkatkan kemampuan dan profesionalisme, serta menjalankan kode etik sesuai ketentuan pokok UU nomor 40 tahun 1999, serta dapat meningkatkan harkat dan derajat mereka itu sendiri"
Ketua Investigasi Nasional La Omy La Tua, juga memberi contoh ada beberapa wartawan senior yang pernah terkenal di Indonesia yang juga telah mengharumkan nama profesi wartawan/ Jurnalis Indonesia antara lain adalah :
1). Adam Malik, pernah aktif sebagai wartawan harian merdeka dan salah satu pendiri LKBN di antara pernah menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.
2). Harmoko, pernah aktif sebagai
wartawan harian mimbar kita dan merdeka serta pernah menjabat sebagai Mentri Penerangan Republik Indonesia.
3). Goenawan Mohamad, merupakan pendiri dan aktif sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo yang juga penulis puisi dan esai.
4). Leila S. Chudori, pernah aktif sebagai wartawan Tempo yang juga penulis novel dan skenario Film.
dan masih banyak yang lain, penulis senior lainya yang tidak dapat di sebut satu persatu hinggah sampai saat ini.
Ketua Investigasi Nasional La Omy La Tua, juga mengatakan bahwa di tengah arus informasi yang kian deras dan kompetitif, wartawan/jurnalis sampai saat ini masih tetap memegang peran sentral sebagai penjaga kebenaran, penyalur informasi, dan pilar utama demokrasi.
Namun, apakah kita hanya sebagai simbol di bangsa kita sendiri ataukah hanya sebagai individu saja maka alasan inilah kami secara tegas minta Peran Pemerintah untuk mengangkat harkat dan martabat Wartawan /Jurnalis Indonesia untuk menghargai profesi yang kami jalani selama ini sebagaimana mestinya jagan hanya di pandang sebelah mata seakan kami adalah melahirkan kegelapan di bangsa ini, tegas. La Omy La Tua.
Kita bisa bayangkan kita ambil contoh di negara lain seperti Negara America atau di Negara Inggris setiap kali ada pertemuan pers, suasananya selalu tertib, profesional, dan penuh penghormatan terhadap para jurnalis tak seperri suasana di Indonesia bangsa kita sendiri terkesan penuh degan interfensi bahkan tindakan kekerasan yang kian terjadi bahkan menghalang-halangi Wartawan /Jurnalis Indonesia saat melakukan aktifitas.
Harusnya peran Pemerintah dapat memposisikan Wartawan /Jurnalis Indonesia sebagai mitra, bukan pelengkap acara atau malah sebaliknya ini semata-mata masalah estetika, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas profesi dan dapat di jadikan sebagai cermin dari budaya bangsa yang menghargai tata pergaulan sipil.
La Omy La Tua, mengatakan bahwa
mari kita liat fakta di bansa kita sendiri apa yang terjadi Wartawan-wartawan yang ada di Istana Negara yang setiap hari mereka meliput kegiatan Presiden dan pemerintahan pusat namun ironisnya mereka hanya terlihat duduk di luar pagar istana, bahkan di lantai, hanya demi bisa menyimak informasi atau pernyataan resmi Presiden Republik Indonesia dan bahkan pejabat Negara lainya yang sering kita liat disampaikan lewat layar televisi.
Ini adalah sebuah pemandangan yang mengusik nurani kita di negeri sendiri, di pusat kekuasaan republik ini, para jurnalis tidak diberi ruang dan tempat yang layak untuk menjalankan tugasnya tak ada bedanya mereka seperti pengemis jalanan.
"Bahkan Ironisnya,lagi jika kita jujur kita melihat sebuah pemandangan fakta di bangsa kita sendiri masih mengalami krisis nilai dalam memahami apa itu rasa hormat, penghargaan terhadap profesi, dan bagaimana membangun peradaban yang bermartabat"
Profesi Wartawan /Jurnalis Indonesia adalah merupakan profesi mulia walaupun dalam situasi krisis sekalipun, para jurnalis tetap bekerja mencari kebenaran, mengungkap realitas, menyampaikan fakta.
Perlu kita jujur bahwa yang menjalankan profesi sebagai Wartawan /Jurnalis Indonesia, mereka adalah saksi sejarah dan pengantar kesadaran publik maka tentunya kita sebagai sasama bangsa tidak harusnya landasan moral dan etika harusnya Pemerintah menyediakan ruang yang layak namun jika tidak maka tersebut yang direndahkan bukan hanya profesi wartawan, tetapi juga martabat kita sendiri.
Sahinggah inilah saatnya kita bertanya lebih dalam apakah kita telah membangun masyarakat yang memiliki nilai dan norma sosial yang benar? dan apakah kita memiliki rasa hormat terhadap profesi dan tugas yang dijalankan dengan dedikasi tinggi?
Tentu, tugas ini tidak hanya berada di pundak wartawan atau masyarakat, tetapi juga pada pihak-pihak yang memiliki otoritas, termasuk Istana. Juru Bicara Presiden, Sekretariat Negara, dan seluruh aparat komunikasi pemerintah harus mulai memikirkan ulang bagaimana cara mereka membangun relasi yang sehat dan terhormat dengan media.
Bukan hanya sekadar menyampaikan informasi, tetapi menciptakan ruang yang menghargai mereka yang berperan menyampaikannya, apalagi kita berada di Bangsa yang besar bukan hanya dilihat dari kekuatan militernya atau kemajuan ekonominya, tetapi dari cara ia memperlakukan orang-orang yang menjaga integritas dan akal sehat publik.
Apalagi Wartawan adalah bagian dari itu sehinggah wajar jika Pemerintah dapat memberikan ruang yang layak, tempat yang terhormat, dan akses yang memadai sehinggah walaupun langkah kecil dapat mencerminkan serta kematangan budaya dan peradaban kita akan terlihat degan baik pula di mata publik.
Ketua Investigasi Nasional La Omy La Tua, juga berharap serta mengajak Pemerintah untuk bersama untuk dapat membenahi dari hal-hal yang tampak sepele, namun sesungguhnya mencerminkan nilai yang sangat dalam tentang rasa hormat sebab dari sanalah kehormatan bangsa kita bisa tumbuh, atau di mata dunia, tetapi akan tumbuh di mata kita sendiri.
Apalagi Wartawan /Jurnalis Indonesia, bukan hanya mengangkat martabatnya namun Wartawan juga merupakan menjaga kehormatan bangsa itu sendiri, tutup. La Omy La Tua.
Red-tim