BOGOR –Neodetik.com || Dunia organisasi perempuan kembali tercoreng perilaku pemimpinnya. Dr. Hj. Munifah Syanwani, Ketua Umum Pemberdayaan Perempuan UMKM Indonesia (PPUMI), sekaligus pemilik Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah naungan Yayasan Jabal Quran, melontarkan tuduhan yang sangat BIADAB, MIRIS, DAN SAMA SEKALI TIDAK BERDASAR.23/05/26.
Alih-alih berduka dan mengevaluasi kinerja dapurnya setelah salah satu supir pengangkut makanan meninggal dunia, wanita yang seharusnya menjadi teladan perempuan ini justru mencari kambing hitam. Secara lantang dan tanpa bukti sedikit pun, ia menuduh LSM Indonesia Moraliti Watch (IMW) sebagai penyebab langsung kematian almarhum. Tuduhan mengada-ada ini sontak menuai kecaman luas karena dinilai sangat kejam, tidak beretika, dan melecehkan nyawa manusia.
Padahal, fakta di lapangan berbicara lain. Dapur MBG Yayasan Jabal Quran di bawah pengelolaan Munifah Syanwani justru memiliki sejarah kelam yang panjang dan memalukan, termasuk kasus penyajian makanan tidak layak konsumsi yang sempat menggemparkan publik.
REKAM JEJAK HITAM: BUAH PIR BUSUK DIBAGIKAN UNTUK RAKYAT
Sebelum isu kematian ini terjadi, nama Munifah Syanwani dan yayasannya sudah lebih dulu masuk daftar hitam pengawasan. Berdasarkan pantauan dan laporan yang dihimpun, dapur yang mengelola uang negara ini kedapatan nekat menyiapkan dan mendistribusikan bahan makanan yang sudah rusak dan membusuk.
Paling mencolok dan membuat publik marah besar saat itu adalah penemuan buah pir yang sudah busuk, berjamur, dan tidak layak makan, namun tetap disiapkan sebagai menu gizi untuk warga penerima manfaat. Saat itulah, LSM IMW hadir sebagai pengawas sosial, menyoroti keras penyimpangan tersebut, dan meminta perbaikan total. Kritik keras itulah yang diduga menjadi bibit dendam pribadi sang pemilik dapur.
Bukannya berterima kasih karena diberi peringatan agar tidak mencelakai kesehatan orang banyak, Munifah Syanwani justru memendam rasa tidak suka terhadap pihak yang kritis. Kini rasa benci itu meledak menjadi tuduhan paling keji: mengaitkan kritik dengan kematian manusia.
FAKTA SEBENARNYA: SUPIR MENINGGAL DIDUGA KECAPEHAN DAN TERBEBANI BERAT
Kembali ke musibah kematian supir pengangkut makanan. Berdasarkan informasi di lapangan dan keterangan orang sekitar, sebab kematian almarhum sangat jelas dan masuk akal. Sang supir meninggal dunia diduga kuat karena kelelahan ekstrem, terporsir tenaganya, dan beban kerja yang sangat berat.
Setiap hari, almarhum harus mengangkut makanan dalam jumlah besar, berjarak jauh, dan berulang kali bolak-balik demi mengejar target distribusi dapur. Kondisi fisik yang dipaksa terus bekerja keras tanpa istirahat cukup, ditambah tekanan kerja, itulah yang diduga menjadi pemicu utama kegagalan fungsi tubuh hingga berujung maut.
Di mana letak kesalahan LSM IMW?
LSM tersebut hanya melakukan tugas mulia: mengawasi agar makanan yang dibayar uang rakyat itu bersih, sehat, dan layak dimakan. Tidak pernah ada ancaman, tidak ada kekerasan, tidak ada paksaan kerja. Hanya kritik lisan dan tulisan. LOGIKA MANUSIA SEHAT PUN BERPIKIR: BAGAIMANA KRITIK TERHADAP MAKANAN BISA MEMBUNUH ORANG?
Tapi di otak Munifah Syanwani, logika itu dibolak-balik. Ia menutupi kelalaian manajemen dapurnya yang membebani kerja berlebihan, lalu melempar kesalahan ke pihak lain.
"Ini tindakan biadab dan tidak punya hati nurani. Orang meninggal karena kerja keras di dapurnya, tapi yang dituduh kami? Kami cuma minta makanannya jangan busuk! Apa hubungannya? Ini jelas cari pembenaran sendiri dan fitnah besar. Sangat miris mendengar seorang ibu-ibu, seorang pemimpin organisasi perempuan, mulutnya sekejam itu," ungkap perwakilan LSM IMW yang sangat terhina dan marah atas tuduhan liar tersebut.
SIKAP MUNIFAH: SAAT DIKONFIRMASI PILIH BUNGKAM DAN LARI DARI TANGGUNG JAWAB
Sorotan tajam publik dan media kini tertuju penuh pada Dr. Hj. Munifah Syanwani. Di tengah gemuruh kecaman masyarakat yang meminta penjelasan logis dan bukti tuduhannya, apa respons sang Ketua Umum PPUMI? DIA MEMILIH BUNGKAM SERATUS PERATUS.
Berulang kali awak media mencoba mengonfirmasi, meminta dasar hukum, bukti medis, atau sedikit pun alasan masuk akal kenapa LSM IMW dituduh sebagai penyebab kematian, Munifah Syanwani diam seribu bahasa. Ia menolak bicara, menolak klarifikasi, dan bersembunyi di balik jajarannya.
Sikap diam ini justru semakin menegaskan dugaan publik bahwa tuduhannya MENGADA-ADA, REKAYASA KOTOR, DAN TIDAK PUNYA DASAR SAMA SEKALI. Ia tahu kalau bicara, ia akan kalah argumen dan terbukti berbohong.
SANGAT TIDAK PANTAS JADI KETUA UMUM PPUMI
Perilaku Munifah Syanwani ini menjadi aib besar bagi dunia organisasi perempuan Indonesia. PPUMI yang seharusnya menjadi wadah pemberdayaan, etika, dan kelembutan hati wanita, justru dipimpin sosok yang:
Pertama: Mengelola fasilitas negara tapi asal-asalan, berani berikan makanan busuk ke rakyat.
Kedua: Menelantarkan tenaga kerja hingga meninggal karena kelelahan akibat beban kerja berlebih.
Ketiga: Tidak berduka, tidak mendoakan, malah menjadikan kematian almarhum senjata politik.
Keempat: Menebar fitnah keji dan tuduhan tanpa bukti kepada pihak pengawas.
Kelima: Saat diminta pertanggungjawaban, lari dan bungkam seribu bahasa.
SOSOK SEPERTI INI SAMA SEKALI TIDAK LAYAK MEMIMPIN. Bagaimana mungkin ia mengajarkan perempuan Indonesia beretika, jujur, dan bertanggung jawab, sementara dirinya sendiri penuh kepalsuan dan kejahatan lisan?
Tuduhan biadab ini bukan sekadar perbedaan pendapat, ini adalah PENISTAAN TERHADAP ALMARHUM DAN KELUARGANYA, serta PENCEMARAN NAMA BAIK LEMBAGA yang bekerja jujur mengawasi negara.
TUNTUTAN TEGAS: TARIK TUDUHAN & MINTA MAAF!
Publik, insan pers, dan elemen masyarakat bersatu suara menuntut:
PERTAMA: TARIK KEMBALI TUDUHAN BIADAB ITU
Dr. Hj. Munifah Syanwani wajib mencabut semua kata-kata fitnahnya terhadap LSM IMW. Tidak ada dasar apa pun menghubungkan kritik dengan kematian supir.
KEDUA: MINTA MAAF TERBUKA
Wajib meminta maaf secara tertulis dan terbuka kepada LSM IMW yang difitnah, kepada keluarga almarhum yang namanya dijadikan alat politik kotor, serta kepada seluruh perempuan Indonesia karena telah mencoreng nama baik kaum perempuan.
KETIGA: EVALUASI TOTAL MANAJEMEN DAPUR
Berhenti menutupi kesalahan sendiri. Evaluasi sistem kerja di dapur agar tidak ada lagi tenaga kerja yang tewas karena kelelahan. Jangan hanya peduli keuntungan dan citra, tapi lupa keselamatan manusia.
KEEMPAT: BERI TANGGUNG JAWAB JELAS
Jangan lagi bungkam. Jelaskan ke publik kenapa berani menuduh sembarangan? Kalau ada bukti, laporkan ke polisi. Kalau tidak ada bukti, itu namanya FITNAH, dan itu dosa besar serta tindak pidana.
Kini mata publik menunggu: Apakah Ketua Umum PPUMI ini punya malu dan hati nurani untuk meminta maaf? Atau terus bungkam dan membiarkan dirinya dicap sebagai pemimpin yang kejam, berbohong, dan biadab?
Red-Ed