Bogor – Neodetik.com || Wajah dunia organisasi pemberdayaan perempuan Indonesia kembali tercoreng mendalam. Dr. Hj. Munifah Syanwani, sosok yang menduduki jabatan mulia sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pemberdayaan Perempuan UMKM Indonesia (PPUMI), justru berperilaku sangat jauh dari etika, moralitas, dan kepantasan. Wanita yang juga dikenal sebagai pemilik dan pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah naungan Yayasan Jabal Quran ini, kembali menjadi sorotan tajam publik.
Kali ini, bukan lagi soal pelayanan atau gizi, melainkan tuduhan sangat kejam dan tidak berdasar. Dr. Hj. Munifah Syanwani secara lantang dan berani menuduh Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia Moraliti Watch (LSM IMW) sebagai penyebab kematian supir pribadinya. Tuduhan liar ini meledak ke permukaan, padahal tidak ada satu pun bukti, fakta medis, atau keterangan hukum yang mengaitkan kematian almarhum dengan aktivitas LSM tersebut.
Publik pun bersatu suara menilai: Sosok seperti Dr. Hj. Munifah Syanwani SAMA SEKALI TIDAK PANTAS memimpin organisasi pemberdayaan perempuan, apalagi mengajarkan nilai-nilai kebaikan, etika, dan pemberdayaan.
JEJAK HITAM: DAPUR MBG YANG PERNAH GEGERKAN PUBLIK DENGAN MAKANAN BUSUK MILIK KETUA UMUM PPUMI.
Sebelum melontarkan tuduhan kematian yang mengerikan ini, nama Dr. Hj. Munifah Syanwani dan Yayasan Jabal Quran yang diasuhnya sudah lebih dulu tercatat memiliki sejarah kelam dan penuh kontroversi dalam pengelolaan program MBG. Dapur yang dipimpinnya sempat menjadi berita besar dan polemik nasional terkait kualitas makanan yang didistribusikan ke warga.
Saat itu, terungkap fakta memalukan di lapangan: distribusi makanan dari dapur Yayasan Jabal Quran dinilai TIDAK LAYAK KONSUMSI. Salah satu bukti nyata yang sempat viral dan mengecam hati publik adalah penemuan buah pir yang sudah busuk, membusuk, dan berjamur, namun nekat tetap disiapkan dan akan dibagikan sebagai bagian dari menu gizi.
Kala itu, LSM IMW lah yang menjadi garda terdepan melakukan pengawasan, melaporkan fakta di lapangan, dan mengkritik keras pengelolaan yang dinilai amburadul, boros anggaran, serta membahayakan kesehatan penerima manfaat. Kritik tajam itu dianggap mengganggu, dan sejak saat itu diduga muncul rasa dendam dan kebencian dari pihak pengelola dapur, termasuk Dr. Hj. Munifah Syanwani, terhadap pihak pengawas.
Alih-alih berterima kasih karena dibenahi atau membuktikan diri dengan perbaikan, Dr. Hj. Munifah justru memilih jalan permusuhan dan kini menebar fitnah paling keji: MENGKAITKAN KRITIK DENGAN KEMATIAN MANUSIA.
"Dulu kami kritik karena makanannya busuk, karena pelayanannya kacau, karena uang negara tidak terpakai benar. Kami minta perbaikan. Tapi jawabannya bukan perbaikan, malah kami dituduh pembunuh? Ini gila dan kelewatan batas! Seorang pemimpin, apalagi pemimpin perempuan, mulutnya tidak boleh sekejam itu," tegas pihak LSM IMW yang merasa sangat terhina dan dirugikan nama baiknya.
FITNAH BESAR: GUNAKAN ALMARHUM SEBAGAI ALAT POLITIK KOTOR
Puncak ketidakwajaran terjadi saat berita duka datang, ketika supir yang bekerja di bawah Yayasan Jabal Quran meninggal dunia. Musibah itu seharusnya menjadi momen berduka, mendoakan kebaikan, dan menerima ketentuan Tuhan. Namun, di tangan Dr. Hj. Munifah Syanwani, musibah dan nyawa almarhum dijadikan komoditas murah untuk menyerang lawan.
Tanpa rasa hormat kepada almarhum, tanpa rasa iba kepada keluarga yang ditinggalkan, dan tanpa dasar hukum apa pun, Ketua Umum PPUMI ini berteriak ke mana-mana: "LSM IMW penyebabnya! Kritik mereka yang bikin tekanan! Mereka yang bikin supir saya meninggal!"
Tuduhan ini sangat mengerikan dan tidak berakal sehat. Bagaimana mungkin sebuah aktivitas pengawasan, pemantauan, dan kritik terbuka terhadap kinerja dapur, dikaitkan dengan sebab kematian seseorang? Di mana hubungan sebab-akibatnya? Di mana bukti medisnya? Di mana laporan polisi yang menyatakan demikian?
Faktanya: TIDAK ADA SATUPUN. Semua itu hanyalah rekayasa kotor Dr. Hj. Munifah Syanwani semata. Tujuannya jelas:
1. ALIHKAN ISU: Menutupi kegagalan dan masalah di dapurnya yang masih menjadi sorotan, mulai dari makanan busuk hingga dugaan penyimpangan lainnya.
2. KAMBING HITAM: Mencari kambing hitam agar publik berbalik membenci LSM IMW yang kritis, sehingga dia dan yayasannya dianggap "korban".
3. MAIN PERASAAN: Memanfaatkan kesedihan keluarga almarhum untuk mendapatkan simpati publik, walau dengan cara menebar dosa besar fitnah.
Ini bukan lagi perbedaan pendapat, ini adalah penistaan terhadap nyawa manusia dan fitnah besar yang diharamkan agama maupun hukum.
KETUA UMUM PPUMI? SAMA SEKALI TIDAK PANTAS!
Pertanyaan besar kini bergema di seluruh penjuru: Apa kualifikasi wanita seperti Dr. Hj. Munifah Syanwani memimpin organisasi pemberdayaan perempuan Indonesia?
Organisasi PPUMI sejatinya berdiri untuk mengangkat harkat, martabat, etika, dan kesejahteraan perempuan. Seorang Ketua Umum diharapkan menjadi teladan: santun, bijaksana, memegang kebenaran, menjaga lisan, dan menjadi pelindung.
Namun apa yang terlihat?
✅ Pertama: Ia mengelola fasilitas negara (Dapur MBG) namun nekat mendistribusikan makanan busuk/tercemar. Tidak punya rasa tanggung jawab pada kesehatan rakyat.
✅ Kedua: Saat dikritik dan dinasihati, bukannya berterima kasih malah memendam dendam.
✅ Ketiga: Saat ada orang meninggal di bawah naungannya, bukannya berduka dan mendoakan, malah menjadikan kematian itu senjata untuk menuduh orang lain tanpa bukti.
✅ Keempat: Mulutnya meluncur fitnah keji. Menuduh orang lain pembunuh, padahal jelas-jelas tidak ada kaitan.
Sosok seperti ini justru PERUSAK CITRA PEREMPUAN. Bagaimana mungkin ia mengajarkan perempuan Indonesia berbisnis, bermoral, dan beretika, sementara perilakunya sendiri penuh kepalsuan, kelicikan, dan kejahatan lisan?
Apakah ini contoh "Pemberdayaan Perempuan" yang diajarkannya? Menuduh sembarangan, menutup aib diri dengan memfitnah orang lain, dan menjadikan kematian orang sebagai alat politik?
SANGAT TIDAK PANTAS.
TUNTUTAN TEGAS: MINTA MUNDUR DAN MINTA MAAF KEPADA PUBLIK.
Masyarakat, elemen perempuan, dan insan pers bersatu suara menuntut hal mutlak:
1. DR. HJ. MUNIFAH SYANWANI WAJIB MINTA MAAF TERBUKA: Kepada LSM IMW yang telah difitnah, kepada keluarga almarhum yang namanya dijadikan alat, serta kepada publik atas perilaku tidak pantasnya. Tarik kembali kata-kata keji itu, atau bersiaplah berurusan dengan hukum atas tuduhan pencemaran nama baik dan fitnah.
2. LEPASKAN JABATAN KETUA UMUM PPUMI: Dia telah mencoreng nama baik organisasi dan perempuan Indonesia. Tidak ada tempat bagi pemimpin yang menjatuhkan orang lain dengan cara kotor. Mundur secara terhormat sebelum didepak dengan cara aib.
3. EVALUASI TOTAL DAPUR MBG YAYASAN JABAL QURAN: Karena rekam jejak makanan busuk dan perilaku pengelolanya yang tidak jujur, dapur ini wajib diaudit total. Apakah masih layak mengelola uang negara jika pemiliknya bermental seperti itu?
"Kami minta Ibu Munifah sadar. Jabatan itu amanah, bukan kekuasaan semena-mena. Mulut itu tanggung jawabnya berat. Jangan main-main dengan nyawa orang, jangan main-main dengan nama baik orang. Dulu makanannya busuk, sekarang perilakunya busuk juga. Kami minta mundur! Tidak pantas memimpin kami!" tegas pernyataan keras dari elemen perempuan.
Kini mata publik tertuju: Apakah Dr. Hj. Munifah Syanwani punya hati nurani untuk meminta maaf dan mundur? Atau terus berkeras menebar fitnah hingga terbukti dia adalah sosok yang jauh dari kata layak?
Red-Ed