Notification

×

Iklan

Diduga Dibangun Asal Jadi, Jembatan Otista Bogor Disorot: Proyek Infrastruktur Rasa “Sementara” yang Membahayakan Publik

April 29, 2026 | April 29, 2026 WIB Last Updated 2026-04-29T15:46:42Z
Bogor, neodetik.com ||  Proyek pembangunan Jembatan Otista kembali menuai sorotan tajam. Alih-alih menjadi simbol kemajuan infrastruktur di Kota Bogor, jembatan tersebut justru diduga dibangun secara asal-asalan, tanpa standar konstruksi yang layak.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa struktur yang seharusnya menggunakan betonisasi kokoh justru diduga hanya memanfaatkan material GRC (Glassfiber Reinforced Cement). 
Penggunaan bahan tersebut untuk konstruksi vital seperti jembatan bukan hanya memicu tanda tanya besar, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius terkait keselamatan masyarakat.
Sejumlah pihak menilai proyek ini terkesan dipaksakan selesai tanpa memperhatikan kualitas. “Ini bukan sekadar kelalaian teknis, ini bentuk pembiaran terhadap potensi bahaya. Jembatan adalah fasilitas publik dengan risiko tinggi, bukan tempat eksperimen material murahan,” ujar salah satu pengamat konstruksi yang enggan disebutkan namanya.

Lebih jauh, dugaan penyimpangan ini menimbulkan kecurigaan adanya praktik pengurangan kualitas material demi menekan biaya, yang berpotensi merugikan negara sekaligus membahayakan pengguna jalan. 
Transparansi proyek pun dipertanyakan, mengingat minimnya informasi terbuka terkait spesifikasi teknis yang digunakan dalam pembangunan tersebut.

Masyarakat pun mulai angkat suara. Banyak pihak menilai proyek ini sebagai bentuk kelalaian serius dari pihak kontraktor maupun instansi terkait yang seharusnya melakukan pengawasan ketat. Tidak sedikit yang mendesak agar dilakukan audit menyeluruh, bahkan investigasi independen untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik proyek ini.

“Kalau benar ini tidak sesuai spesifikasi, maka ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik. Pemerintah harus bertindak tegas, jangan tutup mata,” tegas seorang aktivis lokal.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak kontraktor maupun pemerintah daerah terkait tudingan penggunaan material GRC yang tidak sesuai standar betonisasi. Sikap diam ini justru semakin memperkuat kecurigaan publik bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

Jika terbukti terjadi penyimpangan, maka proyek Jembatan Otista bukan hanya menjadi contoh buruk dalam tata kelola pembangunan, tetapi juga mencerminkan lemahnya pengawasan serta potensi adanya praktik korupsi yang harus segera diusut tuntas.
Publik kini menunggu: apakah pemerintah akan bertindak tegas, atau justru membiarkan persoalan ini tenggelam dan berlalu begitu saja, seperti Buih yang hanyut di aliran sungai. (Firly Nugraha)
×
Berita Terbaru Update